home masjid

Kenali Tanda Alam Malam Kemuliaan melalui Cahaya Mentari Pagi

Selasa, 10 Maret 2026 - 03:00 WIB
Matahari yang teduh di pagi hari adalah simbol bahwa ampunan telah diturunkan dan keselamatan telah diputuskan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah keheningan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, sebuah fenomena kosmologis yang luar biasa dipercaya tengah berlangsung. Bagi mata awam, malam-malam tersebut mungkin tampak serupa dengan malam lainnya. Namun, bagi para pemburu malam kemuliaan, alam semesta sebenarnya sedang membisikkan isyarat-isyarat tertentu. Isyarat ini bukan sekadar mitos urban, melainkan terekam dalam literatur klasik dan hadits-hadits sahih yang mencoba membedah bagaimana semesta bereaksi terhadap turunnya rahmat yang melampaui seribu bulan.

Dalam risalah Lailatul Qadar yang disusun oleh Muhammad Ibn Syami Muthain Syaibah, disebutkan bahwa alam memberikan testimoni nyata terhadap kehadiran malam agung tersebut. Salah satu tanda yang paling ikonik berkaitan dengan perilaku matahari pada keesokan harinya. Muhammad Ibn Syami, dalam karya yang diterjemahkan oleh Ahmad Zawawy dan diedit oleh Eko Haryanto Abu Ziyad, merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Ubay bin Kaab:

وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا

Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.

Deskripsi ini memberikan gambaran tentang fajar yang tidak biasa. Matahari muncul dengan rona putih yang lembut, kehilangan daya sengat cahayanya yang menyilaukan. Fenomena ini diperkuat dalam riwayat Abu Daud yang menyebutkan bahwa matahari pada pagi itu tampak seperti bejana atau talam (at-thast), tetap teduh hingga posisinya meninggi di cakrawala. Secara interpretatif, keteduhan mentari ini seolah melambangkan sisa-sisa kedamaian malam yang masih menyelimuti bumi, di mana panasnya materi tertutup oleh dinginnya pancaran ruhani dari para malaikat yang baru saja kembali ke alam malakut.

Interpretasi mengenai tanda-tanda alam ini juga diulas secara mendalam oleh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hilangnya sinar matahari yang menyengat tersebut terjadi karena banyaknya jumlah malaikat yang naik ke langit setelah menghabiskan malam di bumi. Sayap-sayap malaikat yang berkerumun menghalangi intensitas cahaya matahari, sehingga yang sampai ke mata manusia adalah pendaran cahaya yang teduh dan tenang. Ini adalah sebuah bentuk estetika langit yang hanya bisa dipahami dengan kacamata keimanan.

Selain fenomena matahari, ulama dunia seperti Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menambahkan tanda-tanda lainnya yang berkaitan dengan atmosfer batin. Malam Lailatul Qadar sering digambarkan sebagai malam yang moderat (thalaqah); tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin (la harrah wa la baridah). Di malam tersebut, angin berembus dengan lembut, menciptakan ketenangan yang tidak ditemukan pada malam-malam biasa. Kesunyian ini bukan berarti ketiadaan kehidupan, melainkan sebuah harmoni antara alam dan manusia yang sedang bersujud.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya