home global news

Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Harapan Baru di Tengah Konflik Besar Timur Tengah

Selasa, 10 Maret 2026 - 12:32 WIB
Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Tertinggi Iran, Harapan Baru di Tengah Konflik Besar Timur Tengah
Oleh: Anwar Abbas

LANGIT7.ID–Dunia internasional menyoroti dinamika politik terbaru di Iran setelah Ayatullah Mojtaba Khamenei resmi terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan Ayatullah Ali Khamenei. Pergantian kepemimpinan ini terjadi dalam situasi yang sangat genting, ketika Iran sedang berada dalam konflik terbuka dengan Israel dan Amerika Serikat.

Proses suksesi kepemimpinan tersebut sempat diperkirakan tidak akan mudah. Banyak pengamat menilai Majelis Pakar Kepemimpinan—lembaga yang memiliki kewenangan memilih dan menetapkan Pemimpin Tertinggi Iran—akan menghadapi tantangan besar dalam menentukan sosok pengganti Ali Khamenei. Apalagi kondisi Iran saat ini berada dalam tekanan geopolitik yang sangat berat akibat perang yang melibatkan kekuatan besar dunia.

Namun proses tersebut pada akhirnya berjalan relatif cepat dan lancar. Majelis Pakar Kepemimpinan menjatuhkan pilihan kepada Mojtaba Khamenei, ulama berusia 56 tahun yang juga merupakan putra dari Ali Khamenei.

Mojtaba Khamenei dikenal sebagai figur yang memiliki pengaruh kuat di lingkaran ulama Iran. Selain itu, ia juga disebut memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), kekuatan militer strategis Iran yang memiliki peran besar dalam menjaga stabilitas negara serta menghadapi berbagai ancaman eksternal.

Pemilihan Mojtaba sebagai Pemimpin Tertinggi Iran memang memunculkan perdebatan di kalangan pengamat politik internasional. Sebagian pihak melihat adanya aroma dinasti karena posisi tersebut kini dipegang oleh anak dari pemimpin sebelumnya.

Namun dalam konteks situasi Iran saat ini, pilihan tersebut dinilai sebagai langkah realistis untuk menjaga stabilitas nasional. Negara tersebut sedang menghadapi tekanan militer dan politik yang luar biasa besar dari Israel dan Amerika Serikat, sehingga dibutuhkan figur yang tidak hanya memiliki legitimasi keagamaan tetapi juga mampu menyatukan berbagai kekuatan politik dan militer di dalam negeri.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya