home masjid

Mengapa Rasulullah Membedakan Jalan Saat Hari Raya? Berikut Ini Hikmah di Baliknya

Sabtu, 14 Maret 2026 - 03:00 WIB
Adab membedakan jalan dalam shalat Id adalah cerminan dari agama yang sangat memperhatikan detail interaksi manusia. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di pagi yang fitri, setelah sebulan penuh menempa diri dalam kesunyian puasa, umat Islam tumpah ruah menuju lapangan luas. Ada sebuah instruksi spesifik yang terlihat sederhana namun memiliki dimensi sosiologis yang sangat kuat: perintah untuk membedakan jalur keberangkatan dan kepulangan. Bagi pengamat awam, ini mungkin tampak seperti pilihan rute jalan santai biasa. Namun, dalam kacamata fikih yang tajam, praktik ini adalah bagian dari arsitektur syiar yang dirancang untuk memaksimalkan pertemuan antarmanusia dan memperluas keberkahan di setiap sudut bumi yang dipijak.

Dalam risalah Idul Fithri Ahkamuhu wa Adabuhu yang disusun oleh Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti, disebutkan bahwa salah satu adab yang sangat ditekankan adalah berangkat menuju lapangan shalat melalui satu jalan, dan pulang melalui jalan yang lainnya. Tradisi ini berakar pada perilaku konsisten Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang direkam dalam literatur hadits otentik. Dr. Ashim menjelaskan bahwa perubahan rute ini merupakan pengejawantahan dari keinginan untuk menyebarkan aura kegembiraan secara merata di sepanjang jalur yang dilalui.

Landasan yuridis dari praktik ini merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu, sebagaimana tercantum dalam Shahih Al Bukhari, yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila tiba hari raya, beliau membedakan jalan berangkat dan pulang.

Secara interpretatif, para ulama dunia mencoba membedah hikmah di balik tindakan ini. Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam kitab monumental Fathul Bari menguraikan beberapa kemungkinan alasan teologis dan sosial. Salah satu yang paling kuat adalah agar bumi yang dipijak menjadi saksi ketaatan di hadapan Tuhan pada hari kiamat kelak. Semakin banyak jalan yang dilalui untuk beribadah, semakin banyak saksi yang akan memberikan testimoni atas kesalehan sang hamba.

Secara sosiologis, strategi dua jalan ini berfungsi sebagai instrumen silaturahmi yang masif. Dengan melewati jalur yang berbeda, seorang Muslim memiliki peluang lebih besar untuk bertemu dengan tetangga atau kerabat yang berbeda pula. Hal ini memungkinkan terjadinya pertukaran salam dan doa kemenangan, Taqabbalallahu minna wa minkum, secara lebih luas. Dalam konteks masyarakat urban yang sering kali teralienasi satu sama lain, adab ini menjadi jembatan untuk merobohkan sekat-sekat isolasi sosial di hari kemenangan.

Selain itu, Imam an Nawawi dalam Al Majmu Syarh al Muhadzdzab menyebutkan bahwa hikmah lainnya adalah untuk menampakkan syiar Islam (idzhari syiaril Islam). Gema takbir yang dikumandangkan sepanjang perjalanan akan terdengar di lebih banyak tempat jika rute yang dilalui tidaklah sama. Ini adalah bentuk proklamasi kedamaian dan keagungan Tuhan yang bersifat inklusif. Islam ingin memastikan bahwa aroma kebahagiaan Idul Fitri tidak hanya terkonsentrasi di satu koridor jalan, melainkan merembes ke gang-gang kecil dan pemukiman warga lainnya.

Dr. Ashim bin Abdullah Al Qaryuti dalam materi yang diterbitkan oleh IslamHouse juga menekankan bahwa adab ini berlaku bagi mereka yang berjalan kaki maupun yang berkendaraan. Meskipun teknologi transportasi telah berkembang pesat, esensi dari membedakan jalan tetap relevan sebagai bentuk ketaatan terhadap sunnah (ittiba). Menempuh jalan yang berbeda adalah latihan mental untuk selalu menghadirkan variasi dalam kebaikan dan tidak terjebak dalam rutinitas yang monoton tanpa makna.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya