Ramadhan Bercahaya
Menatap Indonesia Emas 2045: Antara Mimpi dan Tanggung Jawab Generasi Hari Ini
Lusi mahgriefie
Selasa, 17 Maret 2026 - 06:00 WIB
Menatap Indonesia Emas 2045: Antara Mimpi dan Tanggung Jawab Generasi Hari Ini. Foto: RDK UGM
Tak terasa empat hari lagi menjelang Idul Fitri, sebuah momen kemenangan dimana umat muslim menyambut dengan gembira. Bagi sebagian orang, kenangan masa kecil tentang Lebaran selalu terasa hangat dengan baju baru, berkumpul Bersama keluarga, dan tentu saja tradisi angpao dari kakek, nenek, dan paman.
Namun dalam sebuah refleksi yang disampaikan Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, Ph.D. kepada jamaah Ramadan Public Lecture, Ramadhan Di Kampus UGM bertajuk "Menyambut Intelligent Age: Indonesia Emas atau Indonesia Cemas?" itu, suasana menjelang Lebaran justru dijadikan titik awal untuk memikirkan sesuatu yang lebih jauh.
"Bukan hanya lima hari ke depan, melainkan memikirkan dua dekade mendatang. Tepatnya tahun 2045, ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan," kata Prof Selo.
Pemerintah telah lama mencanangkan visi Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita besar tentang Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur. Tetapi pertanyaannya sederhana sekaligus berat, apakah cita-cita itu benar-benar bisa tercapai?
"Indonesia emas yang kita bayangkan adalah Indonesia yang maju, berdaulat, adil dan makmur. Tapi pencanangan itu juga memberi isyarat bahwa hari ini kita belum sepenuhnya sampai ke sana," ungkapnya.
Antara Cita-cita dan Realitas
Dalam refleksi tersebut, berbagai contoh realitas bangsa disinggung. Salah satunya soal kemandirian teknologi dan pertahanan. Prof Selo mencontohkan bagaimana beberapa negara yang lama berada di bawah embargo justru mampu mandiri secara teknologi. Contohnya adalah Iran.
Namun dalam sebuah refleksi yang disampaikan Dekan Fakultas Teknik UGM, Prof. Ir. Selo, Ph.D. kepada jamaah Ramadan Public Lecture, Ramadhan Di Kampus UGM bertajuk "Menyambut Intelligent Age: Indonesia Emas atau Indonesia Cemas?" itu, suasana menjelang Lebaran justru dijadikan titik awal untuk memikirkan sesuatu yang lebih jauh.
"Bukan hanya lima hari ke depan, melainkan memikirkan dua dekade mendatang. Tepatnya tahun 2045, ketika Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaan," kata Prof Selo.
Pemerintah telah lama mencanangkan visi Indonesia Emas 2045, sebuah cita-cita besar tentang Indonesia yang maju, berdaulat, adil, dan makmur. Tetapi pertanyaannya sederhana sekaligus berat, apakah cita-cita itu benar-benar bisa tercapai?
"Indonesia emas yang kita bayangkan adalah Indonesia yang maju, berdaulat, adil dan makmur. Tapi pencanangan itu juga memberi isyarat bahwa hari ini kita belum sepenuhnya sampai ke sana," ungkapnya.
Antara Cita-cita dan Realitas
Dalam refleksi tersebut, berbagai contoh realitas bangsa disinggung. Salah satunya soal kemandirian teknologi dan pertahanan. Prof Selo mencontohkan bagaimana beberapa negara yang lama berada di bawah embargo justru mampu mandiri secara teknologi. Contohnya adalah Iran.