home masjid

Ramadhan Bercahaya

Memaknai Kesejahteraan Lebih dari Sekadar Angka Statistik dan Material

Rabu, 18 Maret 2026 - 06:00 WIB
Memaknai Kesejahteraan Lebih dari Sekadar Angka Statistik dan Material. Foto: RDK UGM
Di tengah suasana Ramadhan yang sarat refleksi, sebuah pertanyaan besar mengemuka, "apa sebenarnya makna kesejahteraan? Apakah sekadar angka statistik ekonomi, atau sesuatu yang lebih dalam dari itu?".

Pertanyaan itu dikemukakan Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna. Ia juga mengajak masyarakat untuk meninjau kembali konsep kesejahteraan di Indonesia bukan hanya dari sisi ekonomi, tetapi juga dari perspektif sosial dan spiritual.

Di atas kertas, sejumlah indikator ekonomi memang menunjukkan perbaikan. Angka kemiskinan nasional tercatat sekira 8,25 persen, sementara pendapatan per kapita juga meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Namun menurut Hempri, angka-angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan realitas yang terjadi di masyarakat.

"Pendapatan per kapita memang meningkat sekitar 47 persen. Tetapi pada saat yang sama, pendapatan 40 orang terkaya di Indonesia justru naik hingga 163 persen. Ini menunjukkan bahwa persoalan ketimpangan masih menjadi isu krusial," ujar Hempri dalam acara Ramadan Public Lecture, Ramadhan di Kampus di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan tajuk, "Welfare State of Indonesia: Meninjau Ulang Konsep Masyarakat Sejahtera di Negara Kesejahteraan".

Ketimpangan itu juga terlihat dari indeks yang berada di angka sekitar 0,39 persen, yang menandakan masih adanya jarak kesejahteraan antara kelompok kaya dan miskin, termasuk antara wilayah Jawa dan luar Jawa.

Baca juga: Menatap Indonesia Emas 2045: Antara Mimpi dan Tanggung Jawab Generasi Hari Ini
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya