home masjid

Memaknai Idulfitri sebagai Puncak Ibadah: Redefinisi Kegembiraan

Rabu, 18 Maret 2026 - 03:30 WIB
Hari raya bukanlah hari permainan, melainkan hari untuk menyambung tali silaturahim, memupus dendam, dan menebar kasih sayang kepada anak yatim serta janda. Ilustrasi: mhy
LANGIT7.ID-Lembaran hari baru saja berganti, meninggalkan jejak kekasih yang baru kemarin kita sambut: Ramadhan. Gema takbir yang kini membahana menandai berakhirnya madrasah sebulan penuh, sekaligus membuka gerbang perayaan yang sering kali disalahpahami. Di tengah hiruk-pikuk bangsa-bangsa dunia yang kerap terjebak dalam kebahagiaan palsu dan kesesatan budaya, umat Islam dituntun untuk melihat hari raya sebagai entitas ibadah yang utuh. Idulfitri bukanlah momen untuk melepas beban, melainkan ekspresi syukur atas taufik yang diberikan Allah sehingga seorang hamba mampu menyempurnakan puasanya.

Dalam risalah bertajuk Al-Ied: Ubadah wa Syukr, Abdul Malik al-Qasim memberikan interpretasi mendalam mengenai hakikat hari kemenangan ini. Menurutnya, kegembiraan seorang mukmin adalah kegembiraan yang batinnya murni karena Allah, bukan karena kemewahan sandang yang dikenakan. Idulfitri adalah pengganti yang lebih baik atas tradisi bermain-main kaum jahiliyah, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam saat tiba di Madinah:

كَانَ لَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الأَضْحَى

Kamu memiliki dua hari raya (Ied) yang kamu bermain-main padanya, sungguh Allah telah menggantikan untukmu yang lebih baik darinya, yaitu hari raya Iedul Fithri dan Iedul Adha. (HR. Abu Daud dan An-Nasa’i).

Sayangnya, realitas sosiologis menunjukkan adanya degradasi makna. Sebagian manusia justru lebih antusias merayakan tradisi-tradisi baru yang tidak berdasar pada syariat, sementara hari besar Islam dilewati dengan sikap berpaling. Padahal, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman dalam surat Al-Hajj ayat 32 bahwa mengagungkan syiar-syiar Allah merupakan tanda dari ketakwaan hati. Mengagungkan Idulfitri berarti menghidupkan adab dan hukum yang melingkupinya.

Manifestasi syukur ini diawali dengan kumandang takbir sejak matahari terbenam di akhir Ramadhan hingga menjelang shalat Ied. Ini adalah bentuk pengagungan atas hidayah Allah, sesuai firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Takbir ini bukan sekadar suara, melainkan proklamasi kedaulatan Tuhan di pasar-pasar, masjid, dan rumah-rumah. Syukur tersebut kemudian dikonkretkan melalui Zakat Fitrah—instrumen pembersih bagi yang berpuasa dan penyambung hidup bagi kaum miskin.

Adab hari raya pun diatur dengan sangat elegan dalam Islam. Mulai dari mandi, memakai pakaian terbaik tanpa berlebihan, hingga anjuran memakan kurma dalam jumlah ganjil sebelum berangkat shalat. Bagi kaum laki-laki, memakai minyak wangi adalah sunnah, sementara bagi wanita, kehadirannya di mushalla Ied adalah untuk menyaksikan kebaikan jamaah kaum muslimin dengan tetap menjaga kehormatan tanpa tabarruj.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya