Mengenal Sejarah dan Perkembangan Hilal MABIMS dalam Penentuan Idulfitri
Lusi mahgriefie
Kamis, 19 Maret 2026 - 09:12 WIB
Ilustrasi: ist
Arab Saudi baru saja umumkan Idulfitri jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Sementara pemerintah Indonesia masih menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar malam ini, serta kesepakatan negara-negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Penentuan awal bulan kamariah di kawasan Asia Tenggara terus mengalami penguatan seiring perkembangan ilmu falak dan astronomi modern. Salah satu yang menjadi tonggaknya adalah kesepakatan negara-negara anggota MABIMS, yang menjadi rujukan bersama dalam menetapkan salah satunya, 1 Syawal sebagai pertanda Idulfitri. Serta awal Ramadhan dan Zulhijah secara lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan, kerja sama regional melalui forum MABIMS telah berlangsung sejak lama sebagai upaya menyatukan pendekatan penentuan awal bulan hijriah di kawasan.
"Sejak 1992, negara-negara anggota MABIMS menggunakan kriteria imkanur rukyat dengan parameter 2–3–8 sebagai acuan dalam menilai visibilitas hilal," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Kamis (19/3/2026).
Ia menerangkan, parameter 2-3-8 mencakup tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, serta umur bulan minimal 8 jam setelah ijtimak. Kriteria ini menjadi dasar dalam menilai validitas laporan rukyatul hilal yang disampaikan dari berbagai titik pengamatan di kawasan Asia Tenggara.
Namun demikian, Arsad menuturkan bahwa perkembangan data astronomi menunjukkan adanya keterbatasan pada kriteria tersebut.
Baca juga:Arab Saudi Resmi Umumkan Idulfitri 2026 Jatuh pada Hari Jumat Ini
Penentuan awal bulan kamariah di kawasan Asia Tenggara terus mengalami penguatan seiring perkembangan ilmu falak dan astronomi modern. Salah satu yang menjadi tonggaknya adalah kesepakatan negara-negara anggota MABIMS, yang menjadi rujukan bersama dalam menetapkan salah satunya, 1 Syawal sebagai pertanda Idulfitri. Serta awal Ramadhan dan Zulhijah secara lebih terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan, kerja sama regional melalui forum MABIMS telah berlangsung sejak lama sebagai upaya menyatukan pendekatan penentuan awal bulan hijriah di kawasan.
"Sejak 1992, negara-negara anggota MABIMS menggunakan kriteria imkanur rukyat dengan parameter 2–3–8 sebagai acuan dalam menilai visibilitas hilal," ujarnya dalam pernyataan tertulis, Kamis (19/3/2026).
Ia menerangkan, parameter 2-3-8 mencakup tinggi hilal minimal 2 derajat, elongasi 3 derajat, serta umur bulan minimal 8 jam setelah ijtimak. Kriteria ini menjadi dasar dalam menilai validitas laporan rukyatul hilal yang disampaikan dari berbagai titik pengamatan di kawasan Asia Tenggara.
Namun demikian, Arsad menuturkan bahwa perkembangan data astronomi menunjukkan adanya keterbatasan pada kriteria tersebut.
Baca juga:Arab Saudi Resmi Umumkan Idulfitri 2026 Jatuh pada Hari Jumat Ini