home masjid

Etika Menjamu Tamu: Belajar Kedermawanan dari Sosok Asy-Syaikh Ash-Shalih

Ahad, 22 Maret 2026 - 20:26 WIB
Nama Ibrahim pun abadi bukan karena emas di kalung anjingnya, melainkan karena uban di janggutnya yang ia syukuri sebagai tanda kewibawaan. Ilusrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah agama-agama samawi kerap menempatkan Ibrahim as dalam bingkai heroik: penghancur berhala atau sosok yang tegar di tengah jilatan api Namruz. Namun, di sebuah lembah sunyi di daratan Syam yang dikenal sebagai Wadi Sab’i atau Lembah Tujuh, sisi kemanusiaan Ibrahim memancar dalam dimensi yang berbeda. Di sana, ia bukan sekadar nabi yang menerima wahyu, melainkan seorang teknokrat kemanusiaan yang mengajarkan bahwa kekayaan materi hanyalah instrumen bagi kemaslahatan publik.

Ibrahim dikenal sebagai sosok yang berlimpah harta. Catatan sejarah Islam menyebutkan kawanan ternaknya mencapai 12.000 ekor kambing, sebuah angka yang fantastis untuk ukuran zaman itu. Kemewahan itu bahkan tampak pada anjing-anjing penjaganya yang berkalung emas. Namun, bagi Ibrahim, tumpukan harta adalah beban moral jika tidak dibarengi dengan tradisi berbagi.

Satu tradisi yang melekat kuat pada dirinya adalah memuliakan tamu. Ibrahim disebut-sebut sebagai manusia pertama yang menjamu tamu dalam sejarah peradaban. Ia adalah antitesis dari egoisme modern. Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam beberapa ceramah tafsirnya sering menekankan bahwa sifat "Al-Halim" (penyantun) yang disematkan Allah kepada Ibrahim dalam Al-Qur'an tercermin dari kegelisahannya jika meja makannya kosong dari kehadiran orang asing. Ia rela berjalan bermil-mil jauhnya hanya untuk mencari musafir yang bersedia diajak makan bersama.

Kedermawanan ini terekam dalam isyarat wahyu pada Surah Adz-Dzariyat ayat 24-25:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salam". Ibrahim menjawab: "Salam (kamu) adalah orang-orang yang belum dikenal." (QS. Adz-Dzariyat: 24-25).

Dalam ayat tersebut, kata "Al-Mukramin" (yang dimuliakan) menjadi kata kunci. Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang gemuk bahkan sebelum ia mengetahui bahwa tamu-tamunya adalah malaikat. Inilah standar etika tertinggi: memuliakan manusia tanpa memandang status atau identitas.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya