Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 30 Mei 2026
home masjid detail berita

Etika Menjamu Tamu: Belajar Kedermawanan dari Sosok Asy-Syaikh Ash-Shalih

miftah yusufpati Ahad, 22 Maret 2026 - 20:26 WIB
Etika Menjamu Tamu: Belajar Kedermawanan dari Sosok Asy-Syaikh Ash-Shalih
Nama Ibrahim pun abadi bukan karena emas di kalung anjingnya, melainkan karena uban di janggutnya yang ia syukuri sebagai tanda kewibawaan. Ilusrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah agama-agama samawi kerap menempatkan Ibrahim as dalam bingkai heroik: penghancur berhala atau sosok yang tegar di tengah jilatan api Namruz. Namun, di sebuah lembah sunyi di daratan Syam yang dikenal sebagai Wadi Sab’i atau Lembah Tujuh, sisi kemanusiaan Ibrahim memancar dalam dimensi yang berbeda. Di sana, ia bukan sekadar nabi yang menerima wahyu, melainkan seorang teknokrat kemanusiaan yang mengajarkan bahwa kekayaan materi hanyalah instrumen bagi kemaslahatan publik.

Ibrahim dikenal sebagai sosok yang berlimpah harta. Catatan sejarah Islam menyebutkan kawanan ternaknya mencapai 12.000 ekor kambing, sebuah angka yang fantastis untuk ukuran zaman itu. Kemewahan itu bahkan tampak pada anjing-anjing penjaganya yang berkalung emas. Namun, bagi Ibrahim, tumpukan harta adalah beban moral jika tidak dibarengi dengan tradisi berbagi.

Satu tradisi yang melekat kuat pada dirinya adalah memuliakan tamu. Ibrahim disebut-sebut sebagai manusia pertama yang menjamu tamu dalam sejarah peradaban. Ia adalah antitesis dari egoisme modern. Syekh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi dalam beberapa ceramah tafsirnya sering menekankan bahwa sifat "Al-Halim" (penyantun) yang disematkan Allah kepada Ibrahim dalam Al-Qur'an tercermin dari kegelisahannya jika meja makannya kosong dari kehadiran orang asing. Ia rela berjalan bermil-mil jauhnya hanya untuk mencari musafir yang bersedia diajak makan bersama.

Kedermawanan ini terekam dalam isyarat wahyu pada Surah Adz-Dzariyat ayat 24-25:

هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَاهِيمَ الْمُكْرَمِينَ إِذْ دَخَلُوا عَلَيْهِ فَقَالُوا سَلَامًا ۖ قَالَ سَلَامٌ قَوْمٌ مُنْكَرُونَ

Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salam". Ibrahim menjawab: "Salam (kamu) adalah orang-orang yang belum dikenal." (QS. Adz-Dzariyat: 24-25).

Dalam ayat tersebut, kata "Al-Mukramin" (yang dimuliakan) menjadi kata kunci. Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang gemuk bahkan sebelum ia mengetahui bahwa tamu-tamunya adalah malaikat. Inilah standar etika tertinggi: memuliakan manusia tanpa memandang status atau identitas.

Namun, sebagaimana dialami oleh para pembawa perubahan, kehadiran Ibrahim di Syam sempat memicu resistensi. Kekayaan ternaknya dianggap menyempitkan ruang gerak penduduk lokal. Dengan kebesaran hati seorang asy-Syaikh ash-Shalih (orang tua yang saleh), Ibrahim memilih menyingkir. Ia tidak menggunakan pengaruhnya untuk melawan, melainkan pergi membawa kedamaian.

Ironisnya, kepergian Ibrahim justru menjadi awal bencana bagi lembah tersebut. Sumur-sumur mengering, ladang retak, dan ternak penduduk binasa. Fenomena ini, jika dibaca secara interpretatif, menunjukkan bahwa keberkahan sebuah negeri sering kali berpijak pada keberadaan orang-orang saleh yang menjaga ekosistem moral dan spiritual. Penduduk Syam tersadar bahwa yang hilang bukan hanya Ibrahim, melainkan "roh" kehidupan yang selama ini ia bawa.

Keputusasaan membawa mereka kembali bersimpuh di hadapan Ibrahim. Di sinilah letak diplomasi tingkat tinggi sang nabi. Ia tidak menyimpan dendam. Ia memberikan tujuh ekor kambing—yang kemudian menjadi asal-usul nama Wadi Sab’i—sebagai simbol kembalinya kehidupan. Tujuh kambing itu diletakkan di setiap sumur, dan air pun kembali memancar deras.

Dalam perspektif Ibnu Katsir dalam Qishashul Anbiya, mukjizat air ini adalah bentuk pengabulan doa Ibrahim yang selalu memohon agar bumi yang ia pijak menjadi negeri yang aman dan berlimpah rezeki. Ibrahim mengajarkan bahwa kepemimpinan dan kekayaan harus memiliki dampak ekologis yang positif bagi lingkungan sekitar.

Nama Ibrahim pun abadi bukan karena emas di kalung anjingnya, melainkan karena uban di janggutnya yang ia syukuri sebagai tanda kewibawaan. Ia adalah potret manusia yang tuntas dengan dirinya sendiri, sehingga seluruh hidupnya hanya difokuskan untuk menjadi pelayan bagi tamu-tamu Tuhan di bumi. Di Wadi Sab’i, Ibrahim telah mewariskan lebih dari sekadar sumur; ia mewariskan ideologi ketulusan yang hingga kini masih mengalir dalam setiap tegukan air dari lembah-lembah kedermawanan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 30 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)