home masjid

Meneladani Nabi Zulkifli: Pemimpin yang Mengharamkan Amarah dalam Berkuasa

Ahad, 22 Maret 2026 - 20:35 WIB
Nabi Zulkifli mengajarkan bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang selesai dengan dirinya sendiri. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah kekuasaan sering kali ditulis dengan tinta ambisi dan perebutan takhta yang berdarah. Namun, di tanah Syam ribuan tahun silam, sebuah transisi kepemimpinan terjadi melalui cara yang unik: sebuah sayembara moral. Tokoh utamanya adalah Basyar, putra Nabi Ayyub as, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Zulkifli. Di balik namanya yang berarti "sang pemegang janji", tersimpan narasi tentang pemimpin yang menjadikan kesabaran sebagai instrumen politik tertinggi.

Kisah ini bermula saat raja Syam yang arif, namun tak memiliki putra mahkota, merasa masa senjanya telah tiba. Ia tak mencari panglima perang yang paling gagah, melainkan sosok yang mampu menaklukkan dirinya sendiri. Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya mengisahkan sang raja mengajukan tiga prasyarat yang tampak sederhana namun berat dalam konsistensi: berpuasa di siang hari, bangun untuk salat di malam hari, dan yang paling krusial, tidak pernah marah.

Di tengah keheningan rakyat yang ragu, Basyar mengangkat tangan. Ia menerima tantangan yang bukan sekadar ritual ibadah, melainkan sebuah kontrak sosial untuk menjadi pelayan umat yang paripurna. Sejak itulah ia menyandang gelar Zulkifli. Kepemimpinannya menjadi antitesis dari penguasa yang reaktif. Ia memahami bahwa seorang pemimpin yang mudah tersulut emosi hanya akan membawa negerinya ke dalam jurang kebijakan yang impulsif.

Ujian kesabaran Zulkifli tidak hanya datang dari urusan kenegaraan, tetapi juga dari gangguan metafisika yang personal. Iblis, yang gerah melihat keteguhan sang nabi, mencoba segala tipu daya. Dalam sebuah fragmen yang dramatis, iblis menjelma menjadi musafir tua yang mengetuk pintu rumah Zulkifli tepat saat sang nabi baru saja merebahkan diri untuk beristirahat siang setelah terjaga sepanjang malam.

Setan tersebut berupaya memancing amarah Zulkifli dengan bolak-balik menagih bantuan namun sengaja tidak datang pada waktu yang dijanjikan. Puncaknya, sang penggoda masuk melalui lubang dinding saat pintu terkunci, mencoba merusak waktu istirahat nabi yang sudah sangat terbatas. Namun, Zulkifli justru menanggapi kehadiran musuh Allah tersebut dengan ketenangan yang melampaui batas kemanusiaan biasa. Ia tidak memaki, tidak pula mengusir dengan murka.

Kesabaran Zulkifli bukan berarti kelemahan. Hal ini terbukti saat negerinya diancam pemberontakan. Ia menunjukkan wajah kepemimpinan yang demokratis dan empatis. Ketika rakyatnya dilanda ketakutan akan kematian di medan perang, Zulkifli tidak memaksakan kehendak dengan ancaman hukuman. Ia memilih jalur spiritual, mengetuk pintu langit dengan doa agar rakyatnya dilindungi. Hasilnya, kemenangan diraih tanpa setetes pun darah rakyatnya yang tumpah.

Kapasitas Zulkifli dalam menjaga emosi dan amanah ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 85-86:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya