Mozaik Keluarga Ibrahim: Menelusuri Jejak 13 Anak dan 4 Istri Sang Nabi
Miftah yusufpati
Senin, 23 Maret 2026 - 05:17 WIB
Kisah Ibrahim as mengajarkan bahwa kebesaran seseorang sering kali disederhanakan oleh zaman. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah agama-agama samawi kerap membingkai Nabi Ibrahim as dalam narasi yang sangat ramping: seorang suami dari Siti Sarah dan Siti Hajar, serta ayah dari dua nabi besar, Ismail dan Ishaq. Namun, jika kita menyelami tumpukan literatur klasik karya para ulama dunia, mozaik kehidupan sang Khalilullah—Kekasih Allah—ternyata jauh lebih luas dan kompleks. Ibrahim bukan sekadar tokoh sentral tauhid, melainkan kepala keluarga besar yang jejak keturunannya menyebar ke berbagai penjuru bumi.
Ibnu Katsir dalam kitab monumentalnya, Qishashul Anbiya, memberikan catatan kaki yang mengejutkan bagi pembaca awam. Selain Sarah dan Hajar, Ibrahim tercatat menikahi dua wanita lain setelah wafatnya Sarah, yaitu Qanthura binti Yaqthan dan Hajun binti Amin. Dari Qanthura, Ibrahim dikaruniai enam orang putra: Madyan, Zamran, Saraj, Yaqsyan, Nasyaq, dan seorang putra lain yang dalam riwayat belum sempat diberi nama. Sementara dari Hajun, lahir lima anak lainnya: Kisan, Sauraj, Amim, Luthan, dan Nafis.
Jika dikalkulasi, Ibrahim adalah ayah dari 13 orang anak. Abu Qasim As-Suhaili dalam At-Tarif wal Alam memperkuat data ini, menjelaskan bahwa persebaran anak-anak Ibrahim ini merupakan bagian dari skenario besar penyebaran ajaran monoteisme dan peradaban di tanah Kan’an dan sekitarnya. Hal ini mengaburkan persepsi umum bahwa nasab Ibrahim hanya terbatas pada jalur keturunan yang lahir di Makkah dan Palestina.
Tak hanya soal keturunan, dimensi usia dan fisik Ibrahim juga menjadi ruang diskusi yang kaya di kalangan mufasir dan ahli tarikh. Al-Hafizh Ibnu Asakir dalam At-Tarikh mencatat nasab panjang Ibrahim yang bermuara pada Sam bin Nuh as. Dalam tradisi literatur yang juga mengutip teks Ahli Kitab, Ibrahim disebut wafat pada usia 175 tahun, meski riwayat lain dari Ibnu Al-Kalbi menyebutkan angka 200 tahun.
Satu fragmen menarik yang terekam dalam Shahih Ibnu Hibban adalah mengenai khitan. Ibrahim tercatat sebagai orang pertama yang melakukan khitan, sebuah praktik yang kemudian menjadi identitas sakral bagi keturunannya. Riwayat menyebutkan ia berkhitan di sebuah tempat bernama Qadum menggunakan kapak pada usia 120 tahun, dan menjalani sisa hidupnya selama 80 tahun kemudian. Keberanian dan ketaatan ini menjadi standar kepasrahan total seorang hamba kepada titah Tuhannya.
Namun, di balik keagungan figuratifnya, Ibrahim adalah manusia yang merayakan perubahan alami pada tubuhnya. Saat uban pertama kali muncul di janggutnya, ia bertanya kepada Tuhan tentang helai putih tersebut. Jawabannya adalah sebuah keindahan spiritual: uban adalah tanda ketenangan dan kewibawaan.
Ya Rabbi ma hadza? Qala: waqarun. Qala: Rabbi zidni waqara.
Ibnu Katsir dalam kitab monumentalnya, Qishashul Anbiya, memberikan catatan kaki yang mengejutkan bagi pembaca awam. Selain Sarah dan Hajar, Ibrahim tercatat menikahi dua wanita lain setelah wafatnya Sarah, yaitu Qanthura binti Yaqthan dan Hajun binti Amin. Dari Qanthura, Ibrahim dikaruniai enam orang putra: Madyan, Zamran, Saraj, Yaqsyan, Nasyaq, dan seorang putra lain yang dalam riwayat belum sempat diberi nama. Sementara dari Hajun, lahir lima anak lainnya: Kisan, Sauraj, Amim, Luthan, dan Nafis.
Jika dikalkulasi, Ibrahim adalah ayah dari 13 orang anak. Abu Qasim As-Suhaili dalam At-Tarif wal Alam memperkuat data ini, menjelaskan bahwa persebaran anak-anak Ibrahim ini merupakan bagian dari skenario besar penyebaran ajaran monoteisme dan peradaban di tanah Kan’an dan sekitarnya. Hal ini mengaburkan persepsi umum bahwa nasab Ibrahim hanya terbatas pada jalur keturunan yang lahir di Makkah dan Palestina.
Tak hanya soal keturunan, dimensi usia dan fisik Ibrahim juga menjadi ruang diskusi yang kaya di kalangan mufasir dan ahli tarikh. Al-Hafizh Ibnu Asakir dalam At-Tarikh mencatat nasab panjang Ibrahim yang bermuara pada Sam bin Nuh as. Dalam tradisi literatur yang juga mengutip teks Ahli Kitab, Ibrahim disebut wafat pada usia 175 tahun, meski riwayat lain dari Ibnu Al-Kalbi menyebutkan angka 200 tahun.
Satu fragmen menarik yang terekam dalam Shahih Ibnu Hibban adalah mengenai khitan. Ibrahim tercatat sebagai orang pertama yang melakukan khitan, sebuah praktik yang kemudian menjadi identitas sakral bagi keturunannya. Riwayat menyebutkan ia berkhitan di sebuah tempat bernama Qadum menggunakan kapak pada usia 120 tahun, dan menjalani sisa hidupnya selama 80 tahun kemudian. Keberanian dan ketaatan ini menjadi standar kepasrahan total seorang hamba kepada titah Tuhannya.
Namun, di balik keagungan figuratifnya, Ibrahim adalah manusia yang merayakan perubahan alami pada tubuhnya. Saat uban pertama kali muncul di janggutnya, ia bertanya kepada Tuhan tentang helai putih tersebut. Jawabannya adalah sebuah keindahan spiritual: uban adalah tanda ketenangan dan kewibawaan.
Ya Rabbi ma hadza? Qala: waqarun. Qala: Rabbi zidni waqara.