LANGIT7.ID-Sejarah agama-agama samawi kerap membingkai Nabi Ibrahim as dalam narasi yang sangat ramping: seorang suami dari Siti Sarah dan Siti Hajar, serta ayah dari dua nabi besar, Ismail dan Ishaq. Namun, jika kita menyelami tumpukan literatur klasik karya para ulama dunia, mozaik kehidupan sang Khalilullah—Kekasih Allah—ternyata jauh lebih luas dan kompleks. Ibrahim bukan sekadar tokoh sentral tauhid, melainkan kepala keluarga besar yang jejak keturunannya menyebar ke berbagai penjuru bumi.
Ibnu Katsir dalam kitab monumentalnya,
Qishashul Anbiya, memberikan catatan kaki yang mengejutkan bagi pembaca awam. Selain Sarah dan Hajar, Ibrahim tercatat menikahi dua wanita lain setelah wafatnya Sarah, yaitu Qanthura binti Yaqthan dan Hajun binti Amin. Dari Qanthura, Ibrahim dikaruniai enam orang putra: Madyan, Zamran, Saraj, Yaqsyan, Nasyaq, dan seorang putra lain yang dalam riwayat belum sempat diberi nama. Sementara dari Hajun, lahir lima anak lainnya: Kisan, Sauraj, Amim, Luthan, dan Nafis.
Jika dikalkulasi, Ibrahim adalah ayah dari 13 orang anak. Abu Qasim As-Suhaili dalam
At-Tarif wal Alam memperkuat data ini, menjelaskan bahwa persebaran anak-anak Ibrahim ini merupakan bagian dari skenario besar penyebaran ajaran monoteisme dan peradaban di tanah Kan’an dan sekitarnya. Hal ini mengaburkan persepsi umum bahwa nasab Ibrahim hanya terbatas pada jalur keturunan yang lahir di Makkah dan Palestina.
Tak hanya soal keturunan, dimensi usia dan fisik Ibrahim juga menjadi ruang diskusi yang kaya di kalangan mufasir dan ahli tarikh. Al-Hafizh Ibnu Asakir dalam
At-Tarikh mencatat nasab panjang Ibrahim yang bermuara pada Sam bin Nuh as. Dalam tradisi literatur yang juga mengutip teks Ahli Kitab, Ibrahim disebut wafat pada usia 175 tahun, meski riwayat lain dari Ibnu Al-Kalbi menyebutkan angka 200 tahun.
Satu fragmen menarik yang terekam dalam Shahih Ibnu Hibban adalah mengenai khitan. Ibrahim tercatat sebagai orang pertama yang melakukan khitan, sebuah praktik yang kemudian menjadi identitas sakral bagi keturunannya. Riwayat menyebutkan ia berkhitan di sebuah tempat bernama Qadum menggunakan kapak pada usia 120 tahun, dan menjalani sisa hidupnya selama 80 tahun kemudian. Keberanian dan ketaatan ini menjadi standar kepasrahan total seorang hamba kepada titah Tuhannya.
Namun, di balik keagungan figuratifnya, Ibrahim adalah manusia yang merayakan perubahan alami pada tubuhnya. Saat uban pertama kali muncul di janggutnya, ia bertanya kepada Tuhan tentang helai putih tersebut. Jawabannya adalah sebuah keindahan spiritual: uban adalah tanda ketenangan dan kewibawaan.
Ya Rabbi ma hadza? Qala: waqarun. Qala: Rabbi zidni waqara.
(Wahai Tuhanku, apa ini? Allah menjawab: Itu adalah kewibawaan. Ibrahim berkata: Tuhanku, tambahkanlah kewibawaanku).
Kini, sang Khalil beristirahat di sebuah gua di Hebron, kawasan Murabba’ah yang kini dikenal sebagai Al-Khalil. Makamnya yang bersandingan dengan Sarah, Ishaq, dan Yaqub menjadi situs yang disucikan secara mutawatir dari generasi ke generasi. Menariknya, tidak ada riwayat shahih yang menunjuk titik presisi di mana jasadnya terbaring, sebuah fakta yang menurut para ulama mengharuskan seluruh kawasan tersebut dihormati secara setara agar tidak ada bagian yang dikotori.
Kisah Ibrahim as mengajarkan bahwa kebesaran seseorang sering kali disederhanakan oleh zaman. Padahal, di balik narasi tunggal yang kita dengar sejak kecil, terdapat bentangan sejarah tentang seorang pengembara tangguh, ayah dari belasan putra, dan manusia pertama yang mengajarkan cara bersolek dengan kewibawaan uban. Di makamnya, konon terdapat tulisan usang yang mengingatkan setiap peziarah: bahwa di dalam kubur, tiada yang menemani siapa pun selain amal perbuatannya. Ibrahim telah menuntaskan amalnya, meninggalkan warisan peradaban yang jauh lebih besar dari sekadar nama-nama dalam silsilah.
(mif)