Sejarah 27 Syawal: Saat Dakwah Rasulullah Mendapat Penolakan Berdarah di Thaif
Miftah yusufpati
Senin, 23 Maret 2026 - 16:04 WIB
Penolakan di Thaif memang menutup pintu suaka di timur Mekah, namun justru membukakan jalan menuju peristiwa Isra Mikraj dan akhirnya hijrah ke Madinah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bulan Syawal dalam kalender Hijriah sering kali diidentikkan dengan kemenangan dan kegembiraan. Namun, bagi sejarah kenabian Muhammad SAW, Syawal tahun ke-10 setelah risalah turun adalah palagan kesabaran yang nyaris melampaui batas kemanusiaan. Di tengah hawa panas semenanjung Arab, sang Nabi melangkah sejauh 60 mil dari Mekah menuju dataran tinggi Thaif. Langkah itu bukan sekadar perjalanan dakwah biasa, melainkan sebuah upaya mencari suaka politik di tengah kepungan intimidasi yang kian mencekik.
Konteks sosiopolitik saat itu sangatlah getir. Tahun tersebut dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Dua pilar penyangga dakwah Nabi telah runtuh: Khadijah, sang istri yang menjadi sandaran emosional dan finansial, serta Abu Thalib, sang paman sekaligus pelindung politik yang disegani Quraisy. Wafatnya Abu Thalib membuat pagar pelindung klan Bani Hasyim retak, memberikan celah bagi kaum kafir Quraisy untuk meningkatkan eskalasi kekerasan terhadap Nabi.
Dalam catatan Ibnu Hisyam melalui kitab as-Sirah an-Nabawiyyah, Nabi Muhammad berangkat ke Thaif dengan harapan mendapatkan perlindungan dari Bani Thaqif. Strategi ini diambil untuk memecah kebuntuan dakwah di Mekah yang sudah stagnan dan penuh ancaman pembunuhan. Nabi menemui tiga pemimpin Bani Thaqif: Abdu Yalail, Mas'ud, dan Habib. Harapannya sederhana: sebuah tempat berlindung di mana Islam bisa bernapas tanpa intimidasi.
Namun, realitas di lapangan jauh lebih pahit dari perkiraan. Alih-alih mendapatkan suaka, Nabi justru dihina dengan kata-kata yang menyayat. Tidak berhenti di sana, para pemimpin Thaif mengerahkan massa, mulai dari kaum budak hingga anak-anak, untuk berbaris di pinggir jalan dan melempari Nabi dengan batu. Darah mengucur dari tumit suci sang Nabi, membasahi sandal dan tanah gersang Thaif. Zaid bin Harithah, yang setia mendampingi, berkali-kali pasang badan hingga kepalanya terluka demi melindungi sang kekasih Allah.
Kejadian ini terekam sebagai fragmen paling emosional. Syekh Safiurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum menggambarkan betapa hancurnya perasaan Nabi saat itu. Di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Shaibah bin Rabi'ah, Nabi tersungkur dan mengadu dalam sebuah doa yang sangat masyhur:
اللهم إليك أشكو ضعف قوتي وقلة حيلتي وهواني على الناس
Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya tipu dayaku, dan kehinaanku di mata manusia.
Konteks sosiopolitik saat itu sangatlah getir. Tahun tersebut dikenal sebagai Amul Huzni atau Tahun Kesedihan. Dua pilar penyangga dakwah Nabi telah runtuh: Khadijah, sang istri yang menjadi sandaran emosional dan finansial, serta Abu Thalib, sang paman sekaligus pelindung politik yang disegani Quraisy. Wafatnya Abu Thalib membuat pagar pelindung klan Bani Hasyim retak, memberikan celah bagi kaum kafir Quraisy untuk meningkatkan eskalasi kekerasan terhadap Nabi.
Dalam catatan Ibnu Hisyam melalui kitab as-Sirah an-Nabawiyyah, Nabi Muhammad berangkat ke Thaif dengan harapan mendapatkan perlindungan dari Bani Thaqif. Strategi ini diambil untuk memecah kebuntuan dakwah di Mekah yang sudah stagnan dan penuh ancaman pembunuhan. Nabi menemui tiga pemimpin Bani Thaqif: Abdu Yalail, Mas'ud, dan Habib. Harapannya sederhana: sebuah tempat berlindung di mana Islam bisa bernapas tanpa intimidasi.
Namun, realitas di lapangan jauh lebih pahit dari perkiraan. Alih-alih mendapatkan suaka, Nabi justru dihina dengan kata-kata yang menyayat. Tidak berhenti di sana, para pemimpin Thaif mengerahkan massa, mulai dari kaum budak hingga anak-anak, untuk berbaris di pinggir jalan dan melempari Nabi dengan batu. Darah mengucur dari tumit suci sang Nabi, membasahi sandal dan tanah gersang Thaif. Zaid bin Harithah, yang setia mendampingi, berkali-kali pasang badan hingga kepalanya terluka demi melindungi sang kekasih Allah.
Kejadian ini terekam sebagai fragmen paling emosional. Syekh Safiurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum menggambarkan betapa hancurnya perasaan Nabi saat itu. Di sebuah kebun anggur milik Utbah dan Shaibah bin Rabi'ah, Nabi tersungkur dan mengadu dalam sebuah doa yang sangat masyhur:
اللهم إليك أشكو ضعف قوتي وقلة حيلتي وهواني على الناس
Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya tipu dayaku, dan kehinaanku di mata manusia.