Sejarah 17 Syawal: Mengenang Tragedi Uhud dan Gugurnya 70 Sahabat Nabi
Miftah yusufpati
Selasa, 24 Maret 2026 - 17:00 WIB
Kini, setiap kali Syawal tiba, memori tentang lembah Uhud kembali menyeruak. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah militer Islam mencatat tanggal 17 Syawal tahun ke-3 Hijriah sebagai hari yang penuh dengan dialektika antara kemenangan yang prematur dan kekalahan yang tragis. Di lembah Gunung Uhud, sekitar lima kilometer dari pusat Madinah, pasukan Muslim yang berjumlah sekitar 700 orang berhadapan dengan 3.000 pasukan musyrikin Quraisy yang datang membawa dendam atas kekalahan mereka di Badar setahun sebelumnya. Namun, musuh terbesar hari itu bukanlah pedang tajam Khalid bin Walid, melainkan retaknya disiplin internal di atas Bukit Rumat.
Nabi Muhammad SAW telah menyusun strategi yang sangat presisi. Beliau menempatkan 50 pemanah di atas bukit dengan instruksi yang tidak boleh ditawar. Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyyah mencatat perintah tegas sang Nabi: "Lindungi punggung kami. Jika kalian melihat kami menang, janganlah kalian bergabung. Jika kalian melihat kami kalah, janganlah kalian menolong." Secara taktis, posisi ini adalah kunci untuk mencegah kavaleri musuh melakukan manuver melingkar (flanking) dari arah belakang.
Awal pertempuran menunjukkan dominasi total pasukan Muslim. Pasukan Quraisy kocar-kadir, meninggalkan harta rampasan perang atau ganimah yang berserakan di padang Uhud. Di sinilah badai psikologis bermula. Sebanyak 40 dari 50 pemanah di atas bukit tergiur melihat tumpukan harta tersebut. Mereka mengira perang telah usai dan bergegas turun, mengabaikan teriakan Abdullah bin Jubair, komandan mereka, yang setia pada instruksi Nabi.
Melihat celah yang terbuka lebar di Bukit Rumat, Khalid bin Walid, yang saat itu masih berada di barisan Quraisy, segera memutar pasukannya dan menyerang dari belakang. Pasukan Muslim yang sedang memunguti ganimah terkejut dan terjepit dalam kekacauan. Kemenangan yang sudah berada di pelupuk mata runtuh dalam hitungan menit. Peristiwa ini diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 152:
مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. (QS. Ali Imran: 152).
Kekalahan di Uhud bukan sekadar kekalahan fisik. Sebanyak 70 sahabat gugur, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib. Nabi sendiri mengalami luka-luka yang cukup parah; pipi beliau terluka dan gigi geraham beliau tanggal. Namun, di balik darah yang tumpah di Syawal yang getir itu, terdapat sekolah besar tentang ketaatan mutlak kepada pemimpin.
Nabi Muhammad SAW telah menyusun strategi yang sangat presisi. Beliau menempatkan 50 pemanah di atas bukit dengan instruksi yang tidak boleh ditawar. Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyyah mencatat perintah tegas sang Nabi: "Lindungi punggung kami. Jika kalian melihat kami menang, janganlah kalian bergabung. Jika kalian melihat kami kalah, janganlah kalian menolong." Secara taktis, posisi ini adalah kunci untuk mencegah kavaleri musuh melakukan manuver melingkar (flanking) dari arah belakang.
Awal pertempuran menunjukkan dominasi total pasukan Muslim. Pasukan Quraisy kocar-kadir, meninggalkan harta rampasan perang atau ganimah yang berserakan di padang Uhud. Di sinilah badai psikologis bermula. Sebanyak 40 dari 50 pemanah di atas bukit tergiur melihat tumpukan harta tersebut. Mereka mengira perang telah usai dan bergegas turun, mengabaikan teriakan Abdullah bin Jubair, komandan mereka, yang setia pada instruksi Nabi.
Melihat celah yang terbuka lebar di Bukit Rumat, Khalid bin Walid, yang saat itu masih berada di barisan Quraisy, segera memutar pasukannya dan menyerang dari belakang. Pasukan Muslim yang sedang memunguti ganimah terkejut dan terjepit dalam kekacauan. Kemenangan yang sudah berada di pelupuk mata runtuh dalam hitungan menit. Peristiwa ini diabadikan Allah SWT dalam Al-Qur'an surah Ali Imran ayat 152:
مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ
Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. (QS. Ali Imran: 152).
Kekalahan di Uhud bukan sekadar kekalahan fisik. Sebanyak 70 sahabat gugur, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib. Nabi sendiri mengalami luka-luka yang cukup parah; pipi beliau terluka dan gigi geraham beliau tanggal. Namun, di balik darah yang tumpah di Syawal yang getir itu, terdapat sekolah besar tentang ketaatan mutlak kepada pemimpin.