Sejarah 18 Syawal: Strategi Parit Salman al-Farisi Gagalkan Kepungan Pasukan Ahzab
Miftah yusufpati
Rabu, 25 Maret 2026 - 03:00 WIB
Pelajaran abadi dari Perang Khandaq bagi dunia modern adalah pentingnya keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa mengorbankan prinsip spiritual. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Bulan Syawal tahun ke-5 Hijriah mencatat salah satu krisis eksistensial paling mencekam bagi entitas Islam di Madinah. Sebanyak sepuluh ribu pasukan gabungan—yang terdiri dari kaum Quraisy, kabilah Gathafan, hingga sisa-sisa kekuatan Yahudi Bani Nadir—bergerak mengepung kota. Peristiwa ini dikenal sebagai Perang Ahzab atau Perang Gabungan, sebuah upaya pamungkas untuk melumatkan dakwah Muhammad SAW hingga ke akarnya. Namun, sejarah kemudian mencatat bahwa kekuatan fisik yang melimpah harus takluk di hadapan kombinasi antara keteguhan iman dan keberanian melakukan inovasi taktik yang tidak lazim pada zamannya.
Konteks peperangan di jazirah Arab kala itu umumnya bertumpu pada keberanian duel satu lawan satu atau serangan kavaleri di padang terbuka. Menghadapi rasio pasukan yang tidak seimbang, Rasulullah SAW membuka ruang bagi diplomasi ide di meja strategi. Di sinilah Salman al-Farisi, seorang sahabat asal Persia, mengajukan sebuah gagasan yang dianggap sebagai anomali bagi militer Arab: menggali parit raksasa (khandaq) di wilayah utara Madinah yang merupakan satu-satunya jalur masuk terbuka bagi pasukan berkuda.
Strategi ini adalah bentuk transfer teknologi militer dari Persia ke jantung Arab. Salman berkata, "Wahai Rasulullah, dahulu di negeri kami (Persia), jika kami dikepung, kami akan membuat parit di sekitar kami." Nabi Muhammad SAW, dengan kelapangan hati seorang pemimpin profetik, menerima inovasi tersebut. Keputusan ini membuktikan bahwa iman tidak pernah berdiri secara pasif; ia menuntut ikhtiar teknis yang cerdas dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Selama kurang lebih enam hari di bulan Syawal yang dingin, sekitar 3.000 Muslim bahu-membahu menggali parit sepanjang beberapa kilometer dengan kedalaman dan lebar yang tidak sanggup dilompati kuda. Rasulullah SAW sendiri turun tangan, memikul tanah dan memecah batu besar, memberikan teladan bahwa inovasi membutuhkan kerja kolektif dan kucuran keringat.
Syekh Safiurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum menggambarkan betapa terpukunya pasukan Ahzab saat tiba di pinggiran Madinah. Mereka berteriak penuh keheranan, "Demi Tuhan, ini adalah tipu daya yang tidak pernah dikenal oleh bangsa Arab!"
Kepungan ini berlangsung selama hampir sebulan. Madinah berada dalam kondisi gawat darurat. Kelaparan mencekik, sementara ancaman pengkhianatan dari dalam kota oleh Bani Quraizah menambah beban psikologis. Kondisi mencekam ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 10:
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا
Konteks peperangan di jazirah Arab kala itu umumnya bertumpu pada keberanian duel satu lawan satu atau serangan kavaleri di padang terbuka. Menghadapi rasio pasukan yang tidak seimbang, Rasulullah SAW membuka ruang bagi diplomasi ide di meja strategi. Di sinilah Salman al-Farisi, seorang sahabat asal Persia, mengajukan sebuah gagasan yang dianggap sebagai anomali bagi militer Arab: menggali parit raksasa (khandaq) di wilayah utara Madinah yang merupakan satu-satunya jalur masuk terbuka bagi pasukan berkuda.
Strategi ini adalah bentuk transfer teknologi militer dari Persia ke jantung Arab. Salman berkata, "Wahai Rasulullah, dahulu di negeri kami (Persia), jika kami dikepung, kami akan membuat parit di sekitar kami." Nabi Muhammad SAW, dengan kelapangan hati seorang pemimpin profetik, menerima inovasi tersebut. Keputusan ini membuktikan bahwa iman tidak pernah berdiri secara pasif; ia menuntut ikhtiar teknis yang cerdas dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Selama kurang lebih enam hari di bulan Syawal yang dingin, sekitar 3.000 Muslim bahu-membahu menggali parit sepanjang beberapa kilometer dengan kedalaman dan lebar yang tidak sanggup dilompati kuda. Rasulullah SAW sendiri turun tangan, memikul tanah dan memecah batu besar, memberikan teladan bahwa inovasi membutuhkan kerja kolektif dan kucuran keringat.
Syekh Safiurrahman al-Mubarakfuri dalam Ar-Rahiq al-Makhtum menggambarkan betapa terpukunya pasukan Ahzab saat tiba di pinggiran Madinah. Mereka berteriak penuh keheranan, "Demi Tuhan, ini adalah tipu daya yang tidak pernah dikenal oleh bangsa Arab!"
Kepungan ini berlangsung selama hampir sebulan. Madinah berada dalam kondisi gawat darurat. Kelaparan mencekik, sementara ancaman pengkhianatan dari dalam kota oleh Bani Quraizah menambah beban psikologis. Kondisi mencekam ini diabadikan Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 10:
إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا