Keistimewaan Nabi Ibrahim: Manusia Pertama yang Mendapat Busana di Padang Mahsyar
Miftah yusufpati
Jum'at, 27 Maret 2026 - 04:00 WIB
Pakaian Ibrahim di hari kiamat adalah mahkota bagi jiwa yang lurus. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah eskatologi Islam menggambarkan sebuah fragmen yang mencekam sekaligus sublim tentang hari kebangkitan. Di bawah langit yang digulung layaknya lembaran perkamen, miliaran manusia dari seluruh lini masa peradaban akan dikumpulkan dalam satu hamparan putih yang luas. Namun, dalam kerumunan kolosal itu, terdapat satu sosok yang akan menerima penghormatan istimewa dari Sang Pencipta. Ia adalah Ibrahim Alaihissalam, manusia pertama yang akan mengenakan pakaian di hari ketika semua orang berdiri dalam keadaan tanpa busana.
Peristiwa ini bukan sekadar narasi pelengkap tentang hari kiamat, melainkan sebuah simbolisme tentang kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari nomor 3349 yang bersumber dari Ibnu Abbas, memberikan gambaran yang presisi mengenai kondisi manusia saat itu:
إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan dalam keadaan belum disunat.
Setelah mengucapkan sabda tersebut, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyitir firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 104 yang menegaskan bahwa penciptaan manusia akan diulangi sebagaimana awal mulanya. Namun, di tengah kesetaraan biologis dalam keadaan "telanjang" tersebut, muncul sebuah anomali penghormatan:
وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ
Dan orang pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat adalah Nabi Ibrahim. (HR. Al-Bukhari).
Peristiwa ini bukan sekadar narasi pelengkap tentang hari kiamat, melainkan sebuah simbolisme tentang kedudukan spiritual yang sangat tinggi. Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah hadis riwayat Al-Bukhari nomor 3349 yang bersumber dari Ibnu Abbas, memberikan gambaran yang presisi mengenai kondisi manusia saat itu:
إِنَّكُمْ مَحْشُورُونَ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا
Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan dalam keadaan belum disunat.
Setelah mengucapkan sabda tersebut, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyitir firman Allah dalam Surah Al-Anbiya ayat 104 yang menegaskan bahwa penciptaan manusia akan diulangi sebagaimana awal mulanya. Namun, di tengah kesetaraan biologis dalam keadaan "telanjang" tersebut, muncul sebuah anomali penghormatan:
وَأَوَّلُ مَنْ يُكْسَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِبْرَاهِيمُ
Dan orang pertama yang diberi pakaian pada hari kiamat adalah Nabi Ibrahim. (HR. Al-Bukhari).