Relasi Spiritual Muhammad SAW dan Ibrahim AS: Satu Garis Ketauhidan yang Hanif
Miftah yusufpati
Sabtu, 28 Maret 2026 - 04:00 WIB
Hubungan antara Muhammad SAW dan Ibrahim Alaihissalam adalah hubungan antara penerus dan perintis dalam satu visi besar. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam peta teologi Islam, sejarah tidak berjalan secara acak. Ia adalah sebuah garis lurus yang menghubungkan satu nabi dengan nabi lainnya dalam satu napas ketauhidan. Salah satu titik temu paling krusial dalam sejarah spiritual ini adalah perintah Allah Azza wa Jalla kepada Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam untuk mengikuti millah atau agama Ibrahim Alaihissalam. Perintah ini bukan sekadar penghormatan historis, melainkan sebuah legitimasi bahwa Islam yang dibawa oleh Muhammad adalah pemurnian kembali atas ajaran hanif yang telah diletakkan fondasinya ribuan tahun silam.
Ketegasan instruksi ilahiah ini terekam dengan sangat jernih dalam Al-Quran surah An-Nahl ayat 123:
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (QS. An-Nahl: 16:123).
Kata "tsumma" (kemudian) di awal ayat ini, menurut para mufasir, menunjukkan sebuah urutan kemuliaan dan kesinambungan. Setelah Allah memuji Ibrahim sebagai imam dan umat yang patuh, Allah memerintahkan Muhammad SAW—manusia paling mulia—untuk mengikuti jejak langkahnya. Interpretasi atas ayat ini menyiratkan sebuah pesan kuat: bahwa kebenaran sejati tidak mengenal kedaluwarsa. Prinsip ketauhidan yang dipegang teguh oleh Ibrahim adalah standar baku yang harus diwarisi oleh setiap nabi setelahnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa mengikuti millah Ibrahim berarti mengambil inti sari dari ketaatan total, pemurnian tauhid, dan keberanian dalam menjauhi segala bentuk kesyirikan. Bagi as-Sa’di, Muhammad SAW dan umat Islam adalah pihak yang paling berhak menyandang identitas pengikut Ibrahim karena mereka mempraktikkan ajaran hanif tersebut secara kaffah, tanpa distorsi yang dilakukan oleh kaum-kaum sebelumnya.
Namun, di balik ajakan untuk mengikuti jalan yang lurus ini, Al-Quran juga memberikan peringatan keras bagi mereka yang enggan atau bahkan membenci ajaran Ibrahim. Dalam surah Al-Baqarah ayat 130, Allah menegaskan sebuah konsekuensi intelektual dan spiritual bagi penentang millah Ibrahim:
Ketegasan instruksi ilahiah ini terekam dengan sangat jernih dalam Al-Quran surah An-Nahl ayat 123:
ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. (QS. An-Nahl: 16:123).
Kata "tsumma" (kemudian) di awal ayat ini, menurut para mufasir, menunjukkan sebuah urutan kemuliaan dan kesinambungan. Setelah Allah memuji Ibrahim sebagai imam dan umat yang patuh, Allah memerintahkan Muhammad SAW—manusia paling mulia—untuk mengikuti jejak langkahnya. Interpretasi atas ayat ini menyiratkan sebuah pesan kuat: bahwa kebenaran sejati tidak mengenal kedaluwarsa. Prinsip ketauhidan yang dipegang teguh oleh Ibrahim adalah standar baku yang harus diwarisi oleh setiap nabi setelahnya.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dalam kitab Taisir al-Karim al-Rahman menjelaskan bahwa mengikuti millah Ibrahim berarti mengambil inti sari dari ketaatan total, pemurnian tauhid, dan keberanian dalam menjauhi segala bentuk kesyirikan. Bagi as-Sa’di, Muhammad SAW dan umat Islam adalah pihak yang paling berhak menyandang identitas pengikut Ibrahim karena mereka mempraktikkan ajaran hanif tersebut secara kaffah, tanpa distorsi yang dilakukan oleh kaum-kaum sebelumnya.
Namun, di balik ajakan untuk mengikuti jalan yang lurus ini, Al-Quran juga memberikan peringatan keras bagi mereka yang enggan atau bahkan membenci ajaran Ibrahim. Dalam surah Al-Baqarah ayat 130, Allah menegaskan sebuah konsekuensi intelektual dan spiritual bagi penentang millah Ibrahim: