Bukan Sekadar Maaf, Nasaruddin Umar Sebut Halalbihalal Sebagai Momentum Sempurnakan Silaturahmi
LANGIT7.ID-Jakarta; Makna mendalam di balik tradisi halalbihalal menjadi sorotan utama dalam tausyiah yang disampaikan Menteri Agama, Nasaruddin Umar. Saat menghadiri acara Halalbihalal 1447H BRIN di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Senin (30/3), ia menekankan bahwa momen ini merupakan upaya menyempurnakan hubungan antarmanusia setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan.
Nasaruddin menjelaskan bahwa secara etimologis, halal berasal dari akar kata halah yang merujuk pada penyelesaian masalah. Menurutnya, hal ini menjadi krusial karena dosa kepada sesama manusia perlu diselesaikan secara langsung melalui silaturahmi, berbeda dengan dosa kepada Sang Pencipta yang diharapkan telah bersih pascaramadan.
"Halal itu dari akar kata halah, yang berarti mengurai atau menyelesaikan persoalan yang rumit. Lawannya haram, yang artinya tertutup atau mampet. Setelah Ramadan, dosa kita kepada Allah diharapkan telah dibersihkan. Tetapi dosa horizontal dengan sesama itu yang perlu disempurnakan melalui halalbihalal," ujar dia dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Meskipun istilah halalbihalal merupakan kekhasan budaya Indonesia yang tidak ditemukan dalam tradisi Arab, Nasaruddin menyebut esensinya tetap berpijak pada nilai silaturahmi dan kasih sayang. Ia menegaskan bahwa inti dari seluruh ajaran agama adalah cinta, bukan kebencian.
"Kalau seluruh kitab suci dipadatkan, intinya adalah ar-rahmanirrahim. Dan itu berasal dari kata rahima, yang berarti cinta," ucapnya.
Ia juga memperingatkan agar masyarakat tidak memiliki pemahaman sempit terhadap agama. "Kalau ada yang memperkenalkan agama dengan benci, sesungguhnya itu memperkenalkan kebalikan dari agama itu sendiri," tambahnya.
Dalam perspektif yang lebih luas, Menteri Agama mengaitkan silaturahmi dengan dunia riset dan inovasi. Ia memberikan ilustrasi mengenai fenomena alam seperti kilat yang disebut dalam Al-Qur'an memiliki sisi ancaman sekaligus manfaat bagi kesuburan tanah. Hal ini, menurutnya, merupakan tantangan bagi para peneliti.