home masjid

Teka-Teki di Balik Penjara Abu Hurairah: Mengurai Paradoks Doa Sulaiman

Selasa, 31 Maret 2026 - 15:32 WIB
Perlindungan sejati dari segala bentuk kejahatanbaik yang nampak maupun yang tersembunyibermula dari kemantapan tauhid yang terkandung dalam Ayat Kursi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah Islam mencatat sebuah insiden yang sepintas tampak sebagai anomali teologis. Di kegelapan gudang zakat Madinah, Abu Hurairah radhiyallahu anhu berhasil menangkap basah seorang pencuri yang belakangan diidentifikasi oleh Rasulullah sebagai setan. Peristiwa ini memicu diskusi panjang di kalangan ulama dunia: jika Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam saja pernah mengurungkan niat untuk mengikat jin karena teringat doa Nabi Sulaiman Alaihissalam, lantas mengapa Abu Hurairah seolah memiliki keleluasaan untuk menangkapnya?

Persoalan ini berakar pada permohonan Nabi Sulaiman yang diabadikan dalam Al-Quran surah Shaad ayat 35:

قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكاً لا يَنْبَغِي لأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي

Ia berkata: Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang pun sesudahku. (QS. Shaad: 35).

Doa ini memberikan otoritas mutlak bagi Sulaiman untuk menundukkan jin dan setan sebagai pembangun serta penyelam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dalam sebuah riwayat hampir mengikat setan yang mengganggu salat beliau di tiang masjid, beliau melepaskannya demi menghormati keistimewaan kerajaan Sulaiman. Namun, dalam kasus Abu Hurairah, penangkapan itu terjadi hingga tiga kali tanpa ada halangan "protokoler" langit tersebut.

Al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab monumental Fathul Bari memberikan jawaban interpretatif untuk memecahkan problem ini. Menurut Ibnu Hajar, terdapat perbedaan kasta dan jenis setan yang dihadapi.

Nabi shallallahu alaihi wa sallam kala itu hendak menangkap tokoh atau pemimpin setan (Ifrit), sebuah tindakan yang jika dilakukan akan bersinggungan langsung dengan kekuasaan unik Sulaiman. Sementara itu, sosok yang ditangkap oleh Abu Hurairah hanyalah setan biasa, atau qarin (pendamping) yang memang bertugas menggoda manusia, bukan penguasa di kalangan mereka.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya