home masjid

Fenomena Tasyaakul: Ketika Setan Menanggalkan Rupa Aslinya Demi Berinteraksi dengan Manusia

Rabu, 01 April 2026 - 03:30 WIB
Meskipun Al-Quran menegaskan bahwa kita tidak dapat melihat setan dari arah asal mereka, pintu manifestasi fisik tetap terbuka melalui kehendak Allah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam diskursus teologis Islam, pembatas antara dunia manusia dan dunia jin sering kali digambarkan sebagai dinding yang tebal dan tak tertembus oleh mata telanjang.

Mayoritas manusia hidup dalam keyakinan bahwa makhluk halus adalah entitas yang sepenuhnya berada di luar jangkauan retina. Keyakinan ini bukan tanpa alasan, sebabAllah Taala sendiri telah menetapkan garis batas tersebut secara tegas melalui wahyu.

Namun, narasi sejarah yang dialami oleh para sahabat Nabi, seperti Abu Hurairah radhiyallahu anhu, menyuguhkan sebuah fenomena interpretatif yang menarik: bahwa dalam kondisi tertentu, yang gaib bisa menjadi nyata.

Garis batas dasar penglihatan manusia terhadap golongan jin dan setan tertanam kuat dalam surah Al-A’raf ayat 27. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لا تَرَوْنَهُمْ

Sesungguhnya ia (Iblis) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. (QS. Al-A’raf: 27).

Ayat ini merupakan fondasi hukum alam (sunnatullah) bagi hubungan visual antara dua dimensi. Secara rupa dasar (asli), setan memiliki kemampuan untuk memantau aktivitas manusia tanpa memberikan celah bagi manusia untuk membalas tatapan tersebut.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya