Keajaiban Lisan Bayi: Mengungkap Fitnah Terhadap Ahli Ibadah Juraij
Miftah yusufpati
Rabu, 01 April 2026 - 17:33 WIB
Kebenaran sering kali datang dari tempat yang paling tidak terduga, bahkan dari lisan seorang bayi yang masih memerah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dunia mengenal logika bahwa bayi hanya bisa berkomunikasi melalui tangisan. Namun, dalam lembaran tarikh yang disampaikan Rasulullah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, terdapat pengecualian yang mengguncang nalar. Tiga bayi tercatat mampu berbicara dengan fasih saat masih dalam buaian. Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah instrumen Sang Pencipta untuk membongkar kebusukan fitnah dan kepalsuan status sosial.
Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari dalam kompilasi kisahnya yang bersumber dari hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, menempatkan bayi-bayi ini sebagai saksi kunci atas kebenaran.
Sosok pertama yang paling masyhur adalah Isa bin Maryam Alaihissalam. Beliau berbicara untuk membela kehormatan ibundanya dari tuduhan keji kaumnya. Namun, dua kisah lainnya membawa kita pada perenungan tentang integritas seorang ahli ibadah dan ironi penilaian manusia terhadap strata sosial.
Kisah kedua adalah bayi dalam kasus Juraij. Juraij digambarkan sebagai zahid yang mengasingkan diri di tempat ibadah. Konflik batin muncul saat ibunya memanggil di tengah salat. Pilihan Juraij untuk melanjutkan salat ketimbang menjawab panggilan ibu berujung pada doa pahit sang bunda: "Ya Allah, jangan Engkau matikan dirinya sebelum ia melihat wajah pezina."
Fitnah pun datang melalui seorang wanita yang menuduh Juraij sebagai ayah dari bayinya. Massa yang marah merobohkan tempat ibadah Juraij dan memukulinya. Di titik nadir inilah, keajaiban terjadi. Setelah salat, Juraij bertanya kepada sang bayi yang baru lahir, "Siapa bapakmu?" Bayi itu menjawab, "Si fulan, seorang penggembala." Lisan sang bayi menjadi pembela tunggal yang menyelamatkan kehormatan sang abid dari kehancuran sosial.
Interpretasi dari kisah Juraij memberikan pelajaran mahal tentang skala prioritas antara ibadah sunah dan berbakti kepada orang tua. Sebagaimana dijelaskan para ulama, termasuk dalam ulasan Syaikh Abu Ishaq, musibah yang menimpa Juraij adalah teguran atas kelalaiannya merespons panggilan ibu. Namun, Allah tetap menjaganya melalui keajaiban bayi tersebut karena ketulusan hatinya.
Kisah bayi ketiga membawa perspektif yang lebih sosiologis. Saat seorang bayi sedang menyusu, lewatlah seorang penunggang kuda yang gagah dan berpenampilan menawan. Sang ibu lantas berdoa agar anaknya menjadi seperti pria tersebut. Tak disangka, sang bayi melepaskan susuan dan berkata, "Ya Allah, jangan jadikan diriku seperti orang itu."
Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari dalam kompilasi kisahnya yang bersumber dari hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim, menempatkan bayi-bayi ini sebagai saksi kunci atas kebenaran.
Sosok pertama yang paling masyhur adalah Isa bin Maryam Alaihissalam. Beliau berbicara untuk membela kehormatan ibundanya dari tuduhan keji kaumnya. Namun, dua kisah lainnya membawa kita pada perenungan tentang integritas seorang ahli ibadah dan ironi penilaian manusia terhadap strata sosial.
Kisah kedua adalah bayi dalam kasus Juraij. Juraij digambarkan sebagai zahid yang mengasingkan diri di tempat ibadah. Konflik batin muncul saat ibunya memanggil di tengah salat. Pilihan Juraij untuk melanjutkan salat ketimbang menjawab panggilan ibu berujung pada doa pahit sang bunda: "Ya Allah, jangan Engkau matikan dirinya sebelum ia melihat wajah pezina."
Fitnah pun datang melalui seorang wanita yang menuduh Juraij sebagai ayah dari bayinya. Massa yang marah merobohkan tempat ibadah Juraij dan memukulinya. Di titik nadir inilah, keajaiban terjadi. Setelah salat, Juraij bertanya kepada sang bayi yang baru lahir, "Siapa bapakmu?" Bayi itu menjawab, "Si fulan, seorang penggembala." Lisan sang bayi menjadi pembela tunggal yang menyelamatkan kehormatan sang abid dari kehancuran sosial.
Interpretasi dari kisah Juraij memberikan pelajaran mahal tentang skala prioritas antara ibadah sunah dan berbakti kepada orang tua. Sebagaimana dijelaskan para ulama, termasuk dalam ulasan Syaikh Abu Ishaq, musibah yang menimpa Juraij adalah teguran atas kelalaiannya merespons panggilan ibu. Namun, Allah tetap menjaganya melalui keajaiban bayi tersebut karena ketulusan hatinya.
Kisah bayi ketiga membawa perspektif yang lebih sosiologis. Saat seorang bayi sedang menyusu, lewatlah seorang penunggang kuda yang gagah dan berpenampilan menawan. Sang ibu lantas berdoa agar anaknya menjadi seperti pria tersebut. Tak disangka, sang bayi melepaskan susuan dan berkata, "Ya Allah, jangan jadikan diriku seperti orang itu."