home global news

Momentum Hari Film Nasional, Fadli Zon Dorong Film Jadi Soft Power Bangsa

Rabu, 01 April 2026 - 17:53 WIB
Momentum Hari Film Nasional, Fadli Zon Dorong Film Jadi Soft Power Bangsa
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, membuka secara resmi gelaran Peringatan Hari Film Nasional Tahun 2026 di Studio Screen X, CGV Grand Indonesia, Jakarta. Peringatan Hari Film Nasional ke-76 ini diselenggarakan melalui rangkaian kegiatan Nonton Bareng Film Darah dan Doa, film nasional pertama karya Usmar Ismail yang menjadi tonggak sejarah lahirnya perfilman Indonesia pada tahun 1950. Momentum Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret menjadi refleksi atas perjalanan sejarah perfilman Indonesia sekaligus penguatan komitmen dalam mendorong kemajuan industri film nasional.

Dalam sambutannya, Menbud Fadli menekankan bahwa film memiliki peran strategis dalam memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia di level global. “Salah satu platform untuk memperkenalkan budaya Indonesia di tengah peradaban dunia adalah film. Di dalam film itu ada berbagai ekspresi budaya, mulai dari seni peran, musik, tari, sastra, bahasa, hingga tradisi dan kuliner yang menjadikannya sebagai kekuatan soft power bangsa,” jelas Menbud dalam keterangan resmi, Rabu (1/4/2026).

Menbud Fadli menyebutkan bahwa perfilman Indonesia memiliki potensi besar yang didukung oleh kekayaan budaya dan keragaman bangsa. Dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis dan ratusan bahasa daerah, Indonesia memiliki sumber cerita yang sangat melimpah untuk dikembangkan menjadi karya film yang berdaya saing global.

Lebih lanjut, Menbud Fadli menjelaskan bahwa Kementerian Kebudayaan terus mendorong penguatan ekosistem perfilman nasional melalui berbagai program strategis, seperti pengembangan manajemen talenta nasional di bidang film, dukungan pendanaan, serta fasilitasi partisipasi sineas Indonesia dalam berbagai festival film internasional. Upaya ini dilakukan untuk memperluas akses, meningkatkan kualitas produksi, serta memperkuat posisi film Indonesia di kancah global.

“Ke depan kita berharap ekonomi budaya dan industri budaya, termasuk perfilman, dapat terus berkembang. Sumber daya budaya tidak akan pernah habis selama manusianya ada. Karena itu, kita ingin membangun ekosistem perfilman yang kuat melalui kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan para sineas,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Sensor Film, Naswardi, dalam laporannya menyebutkan bahwa upaya pelestarian karya perfilman nasional terus dilakukan, termasuk melalui restorasi film klasik. Ia mengapresiasi langkah Kementerian Kebudayaan bersama berbagai pihak dalam merestorasi karya film Darah dan Doa sehingga dapat kembali dinikmati oleh generasi saat ini dan mendatang.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya