home masjid

Pencarian Ilmu Nabi Musa: Mengungkap Rahasia Pertemuan dengan Khidir di Majma' al-Bahrain

Kamis, 02 April 2026 - 18:30 WIB
Kisah Musa dan Khidir di atas batu serta perjalanan lautan ini mengajarkan satu hal: ilmu menuntut ketundukan ego. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dunia Bani Israil saat itu tengah terpukau oleh retorika sang pemimpin. Di hadapan kaumnya, Nabi Musa Alaihissalam berdiri menyampaikan khutbah yang memukau. Namun, sebuah pertanyaan sederhana dari audiens—siapakah manusia paling berilmu—memantik sebuah teguran Allah Taala. Dengan lugas Musa menjawab, "Saya." Jawaban itu, meski secara lahiriah didasarkan pada statusnya sebagai penerima wahyu langsung, dinilai Allah sebagai bentuk kelalaian dalam menisbatkan ilmu kepada Sang Pemilik Ilmu.

Dalam catatan Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari melalui karyanya Qishshah Musa alaihis salam wa Malakul Maut, peristiwa ini menjadi titik mula pengembaraan epik menuju Majma' al-Bahrain atau pertemuan dua lautan. Allah mengabarkan adanya seorang hamba yang memiliki derajat keilmuan yang tidak dimiliki Musa. Maka, berangkatlah Musa didampingi pemuda bernama Yusya bin Nun, dengan instruksi unik: bawalah ikan sebagai kompas gaib. Jika ikan itu hilang, di sanalah sang guru berada.

Pencarian itu menemui titik krusial di sebuah batu besar. Di tempat itulah, fenomena metafisika terjadi; ikan yang menjadi bekal tiba-tiba hidup kembali dan melompat ke lautan. Musa yang kelelahan baru menyadari kehilangan itu setelah perjalanan berlanjut hingga pagi. Al-Quran mengabadikan keletihan itu dalam surah al-Kahfi ayat 62:

قَالَ لِفَتَىٰهُ ءَاتِنَا غَدَآءَنَا لَقَدۡ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَٰذَا نَصَبٗا

Berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah kemari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini."

Langkah kaki pun berbalik arah menuju batu tadi. Di sana, seorang sosok misterius bernama Khidir telah menunggu. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi, melainkan sebuah kontrak pedagogis yang berat. Khidir sejak awal telah memberikan peringatan keras bahwa logika syariat yang dibawa Musa mungkin akan berbenturan dengan logika hakikat yang diembannya. "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku," ujar Khidir dingin.

Ketidakmampuan manusia memahami rahasia takdir digambarkan melalui tiga peristiwa yang mengguncang nalar Musa. Pertama, pelubangan kapal yang telah menolong mereka tanpa bayaran. Kedua, pembunuhan seorang anak kecil yang tampak tak berdosa. Ketiga, perbaikan dinding rumah di sebuah negeri yang penduduknya justru pelit dan enggan menjamu tamu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya