home masjid

Gugurnya Mitos Cincin Sulaiman: Antara Dongeng Israiliyat dan Kemurnian Akidah

Sabtu, 04 April 2026 - 04:06 WIB
Memurnikan kisah nabi dari unsur Israiliyat yang korup adalah bagian dari menjaga agama. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di sudut-sudut pasar gelap spiritual hingga obrolan warung kopi yang kental dengan mistisisme, sebuah nama sering dicatut untuk melegalkan ketergantungan pada benda mati: Nabi Sulaiman Alaihissalam. Bagi para pemburu karamah instan, cincin sang raja dianggap sebagai prototipe jimat paling sahih dalam sejarah manusia. Sebuah benda yang konon mampu menundukkan jin dan mengendalikan angin. Namun, benarkah sang Nabi memerlukan sekerat logam untuk menjalankan mandat kenabiannya?

Pertanyaan ini mungkin terdengar menggelitik bagi mereka yang sudah mencecap jernihnya akidah tauhid. Namun, bagi masyarakat yang masih terbelenggu pola pikir paganisme modern, narasi "cincin sakti" adalah pelarian logis. Mereka melakukan analogi atau qiyas yang dipaksakan: jika Nabi Sulaiman punya cincin dan Nabi Musa punya tongkat sebagai media kekuatan, maka jimat di dompet atau sabuk pun dianggap sah sebagai perantara (wasilah).

Sejarah penafsiran kitab suci memang sering kali menjadi medan tempur antara kemurnian akidah dan infiltrasi dongeng kuno. Penelusuran terhadap literatur tafsir klasik mengungkap adanya alur cerita yang ganjil.

Alkisah, seorang setan berhasil mencuri cincin Sulaiman, menyamar menjadi sang nabi, hingga menduduki takhta dan menggagahi para istri nabi. Narasi ini menyebutkan bahwa tanpa cincin itu, Sulaiman kehilangan daya, berubah bentuk, dan terusir dari kerajaannya sendiri.

Vonis Batil Para Ulama

Celakanya, fondasi argumen ini dibangun di atas pasir yang rapuh. Kisah "cincin yang dicuri setan" tersebut ternyata telah lama divonis cacat oleh para pakar hadis dan sejarawan Islam. Para ulama otoritatif menolak keras alur ini karena mengandung kebatilan yang nyata secara teologis.

Ibnu Hazm dengan tegas menyebut kisah ini sebagai khurafat, sebuah kedustaan yang rantai penularannya (isnad) sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya