Bedah Teologis: Mengapa Perdamaian Sekuler Gagal Mengakhiri Permusuhan Yahudi-Islam
Miftah yusufpati
Senin, 06 April 2026 - 15:47 WIB
Penyelesaian tunggal yang dipahami bahkan oleh bangsa Yahudi itu sendiri adalah perlawanan yang bersandar pada iman. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID - Sejarah sering kali disederhanakan menjadi deretan angka koordinat dan garis batas di atas peta. Di ruang-ruang diplomasi internasional, konflik antara umat Islam dan bangsa Yahudi kerap dipotret sebagai persoalan teknis: sengketa wilayah, pembagian sumber air, atau status pengungsi. Narasi ini digulirkan secara masif oleh musuh-musuh Islam untuk membentuk opini bahwa pertikaian panjang ini dapat berakhir dengan jabatan tangan, hidup berdampingan secara damai, atau pendirian negara sekuler kecil yang layu di bawah bayang-bayang moncong senjata Zionis.
Namun, bagi mereka yang bersedia menyelami kedalaman wahyu dan catatan historis, penyederhanaan itu adalah ilusi yang berbahaya. Sejatinya, pertarungan ini bukanlah sekadar rebutan tanah, melainkan benturan eksistensi, identitas, dan yang paling fundamental: akidah. Ini adalah permusuhan lama yang telah menyalak sejak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendirikan tatanan Islam di Madinah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membedah hakikat kedengkian ini dalam firman-Nya:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS. al-Maidah: 82).
Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan Yahudi mendahului kaum musyrik. Sebuah penegasan bahwa meski kekafiran adalah satu milah, tingkat kebencian mereka terhadap pengikut Muhammad memiliki gradasi yang berbeda. Sejarah mencatat, Nabi sendiri tidak pernah luput dari upaya pembunuhan oleh mereka, mulai dari percobaan menjatuhkan batu giling, racun dalam daging kambing, hingga sihir Labid bin Asham.
Kini, wajah permusuhan itu bertransformasi dalam sokongan persenjataan canggih dari Barat. Di saat dunia disibukkan dengan gegap gempita politik global, pembunuhan massal terhadap anak-anak, wanita, dan lansia di Palestina terus berlangsung. Hiburan-hiburan kosong seperti pertandingan olahraga dan acara unfaedah digunakan sebagai narkotika untuk menina-bobokan umat agar abai terhadap robeknya perut wanita hamil dan runtuhnya fondasi Masjid Al-Aqsha.
Namun, bagi mereka yang bersedia menyelami kedalaman wahyu dan catatan historis, penyederhanaan itu adalah ilusi yang berbahaya. Sejatinya, pertarungan ini bukanlah sekadar rebutan tanah, melainkan benturan eksistensi, identitas, dan yang paling fundamental: akidah. Ini adalah permusuhan lama yang telah menyalak sejak Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mendirikan tatanan Islam di Madinah.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah membedah hakikat kedengkian ini dalam firman-Nya:
لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا
Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. (QS. al-Maidah: 82).
Dalam ayat tersebut, Allah menyebutkan Yahudi mendahului kaum musyrik. Sebuah penegasan bahwa meski kekafiran adalah satu milah, tingkat kebencian mereka terhadap pengikut Muhammad memiliki gradasi yang berbeda. Sejarah mencatat, Nabi sendiri tidak pernah luput dari upaya pembunuhan oleh mereka, mulai dari percobaan menjatuhkan batu giling, racun dalam daging kambing, hingga sihir Labid bin Asham.
Kini, wajah permusuhan itu bertransformasi dalam sokongan persenjataan canggih dari Barat. Di saat dunia disibukkan dengan gegap gempita politik global, pembunuhan massal terhadap anak-anak, wanita, dan lansia di Palestina terus berlangsung. Hiburan-hiburan kosong seperti pertandingan olahraga dan acara unfaedah digunakan sebagai narkotika untuk menina-bobokan umat agar abai terhadap robeknya perut wanita hamil dan runtuhnya fondasi Masjid Al-Aqsha.