Kementerian Kebudayaan Gandeng Mizan Produksi Film Syekh Yusuf Al Makassari
Tim langit 7
Senin, 06 April 2026 - 22:40 WIB
Kementerian Kebudayaan Gandeng Mizan Produksi Film Syekh Yusuf Al Makassari
LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia membuka peluang kolaborasi dengan Mizan Production dalam pengembangan film Syekh Yusuf Al-Makassari. Produksi film tersebut merupakan bagian dari upaya penguatan diplomasi budaya dan pemanfaatan momentum peringatan 400 tahun tokoh ulama dan pejuang nasional Syekh Yusuf Al-Makassari.
Pertemuan antara Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Haidar Bagir, selaku Presiden Direktur Mizan Group, ini membahas potensi pengembangan karya film berbasis sejarah dan spiritualitas Syekh Yusuf Al-Makassari. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari pada tahun ini memiliki makna strategis tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga dalam sejarah global. Menurut Menbud, Indonesia telah mengusulkan peringatan tersebut kepada UNESCO.
Menteri Fadli Zon menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan mendorong adanya co-production atau produksi bersama dalam pembuatan film. Menbud menjelaskan bahwa yang penting adalah skenario dan pengembangannya.
Kementerian Kebudayaan yang juga menaungi Direktorat Film, Musik, dan Seni, telah banyak mendukung komunitas film. Menurut Menbud, Kementerian Kebudayaan telah memfasilitasi para sineas untuk mengikuti beberapa festival film internasional seperti di Rotterdam, Udine, Sundance, Clermont-Ferrand, dan Cannes.
"Kementerian Kebudayaan juga baru saja meluncurkan Dana Indonesia Raya yang bisa digunakan untuk matching fund. Kita juga baru buka untuk development fee dan post-production khusus film. Sekarang juga ada lomba penulisan skenario film sejarah, serta rencana afirmasi lima film sejarah," jelas Menbud, menyampaikan skema-skema kolaborasi, Senin (6/4/2026).
Sementara itu, Haidar Bagir, menyampaikan bahwa ketertarikan untuk mengangkat kisah Syekh Yusuf Al-Makassari sebenarnya telah muncul sejak lama. Mengingat kompleksitas karakter Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai ulama, pemikir tasawuf, pejuang anti-kolonialisme, serta tokoh yang memiliki dimensi kehidupan personal yang kuat.
"Mizan berpengalaman dalam memproduksi berbagai film nasional, termasuk film Laskar Pelangi. Namun demikian, saya menekankan bahwa produksi film sejarah atau biografi memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi pembiayaan dan dinamika pasar yang sangat kompetitif," jelasnya.
Pertemuan antara Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Haidar Bagir, selaku Presiden Direktur Mizan Group, ini membahas potensi pengembangan karya film berbasis sejarah dan spiritualitas Syekh Yusuf Al-Makassari. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari pada tahun ini memiliki makna strategis tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga dalam sejarah global. Menurut Menbud, Indonesia telah mengusulkan peringatan tersebut kepada UNESCO.
Menteri Fadli Zon menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan mendorong adanya co-production atau produksi bersama dalam pembuatan film. Menbud menjelaskan bahwa yang penting adalah skenario dan pengembangannya.
Kementerian Kebudayaan yang juga menaungi Direktorat Film, Musik, dan Seni, telah banyak mendukung komunitas film. Menurut Menbud, Kementerian Kebudayaan telah memfasilitasi para sineas untuk mengikuti beberapa festival film internasional seperti di Rotterdam, Udine, Sundance, Clermont-Ferrand, dan Cannes.
"Kementerian Kebudayaan juga baru saja meluncurkan Dana Indonesia Raya yang bisa digunakan untuk matching fund. Kita juga baru buka untuk development fee dan post-production khusus film. Sekarang juga ada lomba penulisan skenario film sejarah, serta rencana afirmasi lima film sejarah," jelas Menbud, menyampaikan skema-skema kolaborasi, Senin (6/4/2026).
Sementara itu, Haidar Bagir, menyampaikan bahwa ketertarikan untuk mengangkat kisah Syekh Yusuf Al-Makassari sebenarnya telah muncul sejak lama. Mengingat kompleksitas karakter Syekh Yusuf Al-Makassari sebagai ulama, pemikir tasawuf, pejuang anti-kolonialisme, serta tokoh yang memiliki dimensi kehidupan personal yang kuat.
"Mizan berpengalaman dalam memproduksi berbagai film nasional, termasuk film Laskar Pelangi. Namun demikian, saya menekankan bahwa produksi film sejarah atau biografi memiliki tantangan tersendiri, terutama dari sisi pembiayaan dan dinamika pasar yang sangat kompetitif," jelasnya.