home masjid

Gugatan Teologis: Mengapa Yahudi Modern Bukan Pewaris Sah Nabi Yaqub?

Rabu, 08 April 2026 - 05:46 WIB
Pertarungan di Palestina bukan sekadar perebutan tanah, melainkan pertarungan memperebutkan kebenaran sejarah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah gemuruh konflik yang membakar tanah Palestina, sebuah narasi besar terus dipompakan ke permukaan: klaim bahwa bangsa Yahudi adalah pewaris sah dari tanah dan tradisi kenabian Israel. Nama Israel yang dicatut sebagai identitas negara modern seolah menjadi segel pembenar bahwa mereka adalah kelanjutan dari risalah Yaqub Alaihissalam. Namun, bagi mereka yang menyelami kedalaman literatur akidah, klaim tersebut tak lebih dari sebuah bangunan pasir yang runtuh disapu gelombang kebenaran wahyu.

Syaikh Prof. Dr. Rabi bin Hadi Al-Madkhali, dalam amatan tajamnya yang terangkum dalam Ain Salsabil Min Ma’ini Imamil Jarhi Wa Ta’dil, memberikan garis demarkasi yang sangat tegas. Baginya, hubungan antara orang-orang Yahudi saat ini dengan Nabiyullah Israel (Yaqub) dan Ibrahim Khalilullah telah terputus total secara keagamaan. Makar terbesar yang dilakukan gerakan Zionis adalah mencoba meyakinkan dunia bahwa ikatan darah biologis secara otomatis memberikan hak waris syar’i atas risalah dan tanah para nabi.

Pandangan ini bersandar pada fondasi Al-Quran yang sangat kuat. Dalam Surah Ali Imran ayat 68, Allah menegaskan siapa sesungguhnya yang berhak mengeklaim kedekatan dengan Ibrahim: "Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta orang-orang yang beriman, dan Allah adalah pelindung semua orang-orang yang beriman." Ayat ini menjadi proklamasi bahwa ahli waris sejati dari seorang nabi bukanlah mereka yang memuja ras, melainkan mereka yang menjaga api ketauhidan.

Bantahan terhadap klaim Yahudi dan Nasrani atas sosok Ibrahim juga termaktub dalam Ali Imran ayat 67. Allah menegaskan bahwa Ibrahim bukanlah seorang Yahudi maupun Nasrani, melainkan seorang yang hanif, muslim, dan menjauhi kemusyrikan. Redaksi ini menunjukkan bahwa identitas kenabian adalah identitas spiritual yang melampaui sekat-sekat etnisitas yang sering kali dibanggakan oleh kaum Yahudi.

Kaum muslimin memang tidak menampik fakta historis bahwa secara genetik banyak di antara orang Yahudi merupakan keturunan Ibrahim dan Yaqub. Namun, dalam hukum Allah, pertalian darah tidak memiliki nilai ketika dihadapkan pada kekafiran dan permusuhan terhadap ajaran Tuhan. Islam memastikan bahwa orang-orang Yahudi yang membangkang, membunuh para nabi, dan menolak risalah Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam adalah musuh Allah. Antara nabi dan musuh-musuh nabi, tidak ada jalinan saling mewarisi.

Logika warisan ini serupa dengan kisah Nabi Nuh dan putranya. Meskipun ada ikatan darah, Allah berfirman bahwa sang putra bukanlah termasuk keluarganya karena perbuatannya yang tidak saleh. Demikian pula dengan posisi Yahudi terhadap Israel (Yaqub). Kedudukan sebagai pewaris para nabi dialihkan kepada kaum muslimin karena umat Muhammad inilah yang mencintai, memuliakan, dan mengimani seluruh kitab suci serta para utusan Allah tanpa terkecuali.

Maka, penyebutan negara Zionis dengan nama Israel bukan sekadar masalah penamaan geografi, melainkan upaya pengaburan identitas. Kaum muslimin menjadikan keimanan kepada seluruh nabi sebagai pokok agama mereka. Dengan demikian, secara hakiki, umat Islamlah yang lebih pantas disebut sebagai pewaris tradisi Ibrahimiah dan Israiliyah yang murni. Keberadaan entitas Yahudi di jantung negeri muslim dengan mencatut nama Israel adalah bentuk makar yang mencoba memanipulasi sejarah demi kepentingan teritorial.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya