home edukasi & pesantren

ITS Kembangkan Metode Produksi Bensin Sawit yang Terukur dan Efisien

Rabu, 08 April 2026 - 10:37 WIB
ITS Kembangkan Metode Produksi Bensin Sawit yang Terukur dan Efisien
LANGIT7.ID-Surabaya; Isu krisis energi dan tuntutan untuk transisi energi hijau terus mendorong para akademisi untuk melahirkan inovasi alternatif. Sebagai jawaban dan untuk menunjukkan dukungan terhadap inovasi energi yang terbarukan dan berkelanjutan, dosen Departemen Teknik Material dan Metalurgi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Dr Eng Hosta Ardhyananta ST MSc bersama timnya mengembangkan metode pembuatan bahan bakar alternatif berbahan baku kelapa sawit yang rendah emisi.

Melihat situasi geopolitik saat ini, di mana negara-negara di dunia, terutama ASEAN, sedang dihadapkan dengan kondisi krisis bahan bakar minyak (BBM). Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menyampaikan bahwa inovasi bensin sawit (Benwit) karya tim peneliti ITS tersebut bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. “Ini kesempatan bagi pemerintah untuk mengembangkan sumber energi alternatif di tengah isu krisis bahan bakar akibat konflik di wilayah Timur Tengah saat ini,” tutur Bambang dalam keterangan resmi, Rabu (8/4/2026).

Hosta yang merupakan ahli di bidang polimer, komposit, dan nanomaterial menyampaikan bahwa fokus penelitian ini berada pada pengurangan residu yang dihasilkan dari proses produksi. “Fokus dari inovasi kami ini adalah bagaimana mengonversi minyak mentah kelapa sawit yang padat menjadi produk bensin biogasoline yang siap digunakan,” terang Hosta yang meneliti bersama timnya.

Dalam prosesnya, tim ITS memanfaatkan metode catalytic cracking, yakni teknik pemecahan molekul besar menjadi molekul yang lebih kecil menggunakan katalis. Awalnya, proses ini menggunakan katalis berbasis alumina (γ-Al₂O₃) yang berperan sebagai “gunting molekuler” untuk memecah trigliserida dalam Crude Palm Oil (CPO) menjadi fraksi hidrokarbon ringan. Melalui pendekatan ini, konversi biogasoline dapat mencapai sekitar 60 persen, meskipun masih membutuhkan suhu operasi tinggi hingga 420 derajat Celsius.

Pengembangan lebih lanjut kemudian dilakukan dengan menghadirkan katalis bimetalik berbasis nikel oksida (NiO) dan tembaga oksida (CuO) dengan komposisi seimbang. Kombinasi ini bekerja secara sinergis, di mana NiO berperan dalam memutus rantai karbon, sementara CuO membantu menghilangkan kandungan oksigen. Hasilnya, proses reaksi menjadi lebih efisien dengan penurunan suhu operasi hingga 380 derajat Celsius serta peningkatan rendemen biogasoline hingga mencapai 83 persen.

Produk bensin nabati yang dihasilkan didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek pada rentang C5 hingga C11, yang merupakan komponen utama bensin komersial. Selain itu, sebagian produk samping berupa gas dapat dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar pemanas reaktor.

Sementara residu cair yang menyerupai minyak dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif lain, sehingga mendukung konsep produksi yang minim limbah. “Karena karakteristiknya yang menyerupai oli atau minyak jelantah, residu cair itu bisa dimanfaatkan kembali sebagai bahan bakar kompor,” papar Hosta.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya