Jejak Tipu Muslihat di Balik Sejarah Kaum Yahudi: Dari Nabi Musa Hingga Piagam Madinah
Miftah yusufpati
Rabu, 08 April 2026 - 17:00 WIB
Ketika sejarah mencatat konsistensi dalam pengkhianatan selama ribuan tahun, maka kepercayaan tidak bisa diberikan begitu saja tanpa kewaspadaan tingkat tinggi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Sejarah manusia adalah rangkaian kesepakatan yang saling mengikat, namun bagi sebuah bangsa di pesisir Mediterania, perjanjian tampak tak lebih dari sekadar kertas yang siap disobek kapan saja. Di balik narasi kemanusiaan yang sering mereka gaungkan di panggung dunia saat ini, tersimpan sebuah catatan kelam yang diabadikan oleh sejarah dan dikukuhkan oleh kitab suci. Khianat, ingkar janji, dan tipu muslihat bukan sekadar tudingan politis, melainkan sebuah tabiat yang telah berakar sejak ribuan tahun silam.
Dalam kajian mendalam yang tertuang dalam kitab Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql menguliti lapisan-lapisan sifat yang melekat pada bangsa ini. Menurut amatan mereka, Yahudi adalah bangsa yang rusak secara moral dan menjadi arsitek berbagai makar. Penilaian ini bukanlah sebuah sentimen buta, melainkan sebuah konklusi yang ditarik dari nash-nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah yang telah teruji kebenarannya.
Jejak pengkhianatan ini bermula jauh sebelum dunia mengenal diplomasi modern. Nabi Musa Alaihissalam, sosok yang menyelamatkan mereka dari belenggu Fir'aun, justru menjadi korban pertama dari sifat bebal dan pengkhianatan mereka. berkali-kali janji setia diucapkan, namun berkali-kali pula mereka berpaling. Pola yang sama terus berulang kepada nabi-nabi setelahnya, termasuk kepada Nabi Isa Alaihissalam, di mana makar dan tipu daya menjadi senjata utama untuk menghalangi kebenaran.
Namun, barangkali catatan yang paling membekas dalam memori umat Islam adalah peristiwa di Madinah. Kala itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah membentangkan Piagam Madinah sebagai payung persaudaraan dan pertahanan bersama. Alih-alih menjaga kesetiaan, kaum Yahudi justru menusuk dari belakang. Mereka melanggar perjanjian yang sakral, berkomplot dengan kaum musyrik Quraisy dalam perang Ahzab, bahkan memiliki ambisi gelap untuk melenyapkan nyawa sang nabi. Pengkhianatan yang sistematis inilah yang akhirnya memaksa Rasulullah mengambil tindakan tegas dengan mengusir mereka demi keamanan negara yang baru tumbuh tersebut.
Menariknya, tipu muslihat ini sering kali dibarengi dengan kesombongan yang luar biasa. Mereka merasa mampu mengakali hukum Tuhan, padahal sebagaimana diingatkan dalam wahyu, tipu daya itu sebenarnya hanya kembali pada diri mereka sendiri. Kesombongan intelektual dan merasa sebagai bangsa terpilih membuat mereka buta bahwa setiap pengkhianatan yang mereka lakukan adalah lubang yang mereka gali untuk nasib mereka di masa depan.
Para ulama, seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sering kali menyoroti bagaimana sifat-sifat ini bukanlah sekadar oknum, melainkan telah menjadi sebuah kecenderungan kolektif yang sulit diubah jika tanpa hidayah. Sikap ingkar janji ini lahir dari penyakit hati yang merasa bahwa janji hanya berlaku selama memberikan keuntungan materi. Jika sebuah perjanjian mulai membatasi nafsu dan ambisi, maka dengan segala kelicikan, mereka akan mencari celah untuk menghancurkannya.
Interpretasi ini memberikan perspektif penting dalam memandang berbagai konflik di masa kini. Ketika sejarah mencatat konsistensi dalam pengkhianatan selama ribuan tahun, maka kepercayaan tidak bisa diberikan begitu saja tanpa kewaspadaan tingkat tinggi. Sejarah Madinah adalah pelajaran abadi bahwa bagi mereka yang memiliki DNA tipu muslihat, perdamaian hanyalah jeda untuk mempersiapkan makar berikutnya.
Dalam kajian mendalam yang tertuang dalam kitab Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql menguliti lapisan-lapisan sifat yang melekat pada bangsa ini. Menurut amatan mereka, Yahudi adalah bangsa yang rusak secara moral dan menjadi arsitek berbagai makar. Penilaian ini bukanlah sebuah sentimen buta, melainkan sebuah konklusi yang ditarik dari nash-nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah yang telah teruji kebenarannya.
Jejak pengkhianatan ini bermula jauh sebelum dunia mengenal diplomasi modern. Nabi Musa Alaihissalam, sosok yang menyelamatkan mereka dari belenggu Fir'aun, justru menjadi korban pertama dari sifat bebal dan pengkhianatan mereka. berkali-kali janji setia diucapkan, namun berkali-kali pula mereka berpaling. Pola yang sama terus berulang kepada nabi-nabi setelahnya, termasuk kepada Nabi Isa Alaihissalam, di mana makar dan tipu daya menjadi senjata utama untuk menghalangi kebenaran.
Namun, barangkali catatan yang paling membekas dalam memori umat Islam adalah peristiwa di Madinah. Kala itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah membentangkan Piagam Madinah sebagai payung persaudaraan dan pertahanan bersama. Alih-alih menjaga kesetiaan, kaum Yahudi justru menusuk dari belakang. Mereka melanggar perjanjian yang sakral, berkomplot dengan kaum musyrik Quraisy dalam perang Ahzab, bahkan memiliki ambisi gelap untuk melenyapkan nyawa sang nabi. Pengkhianatan yang sistematis inilah yang akhirnya memaksa Rasulullah mengambil tindakan tegas dengan mengusir mereka demi keamanan negara yang baru tumbuh tersebut.
Menariknya, tipu muslihat ini sering kali dibarengi dengan kesombongan yang luar biasa. Mereka merasa mampu mengakali hukum Tuhan, padahal sebagaimana diingatkan dalam wahyu, tipu daya itu sebenarnya hanya kembali pada diri mereka sendiri. Kesombongan intelektual dan merasa sebagai bangsa terpilih membuat mereka buta bahwa setiap pengkhianatan yang mereka lakukan adalah lubang yang mereka gali untuk nasib mereka di masa depan.
Para ulama, seperti Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sering kali menyoroti bagaimana sifat-sifat ini bukanlah sekadar oknum, melainkan telah menjadi sebuah kecenderungan kolektif yang sulit diubah jika tanpa hidayah. Sikap ingkar janji ini lahir dari penyakit hati yang merasa bahwa janji hanya berlaku selama memberikan keuntungan materi. Jika sebuah perjanjian mulai membatasi nafsu dan ambisi, maka dengan segala kelicikan, mereka akan mencari celah untuk menghancurkannya.
Interpretasi ini memberikan perspektif penting dalam memandang berbagai konflik di masa kini. Ketika sejarah mencatat konsistensi dalam pengkhianatan selama ribuan tahun, maka kepercayaan tidak bisa diberikan begitu saja tanpa kewaspadaan tingkat tinggi. Sejarah Madinah adalah pelajaran abadi bahwa bagi mereka yang memiliki DNA tipu muslihat, perdamaian hanyalah jeda untuk mempersiapkan makar berikutnya.