home masjid

Karakter Kaum Pengobar Fitnah: Dengki Jadi Motif Utama Yahudi Mengaburkan Kebenaran

Kamis, 09 April 2026 - 05:41 WIB
Sejarah akan selalu mencatat bahwa bangsa yang membangun peradabannya di atas pondasi kedengkian dan kerusakan tidak akan pernah mendapatkan kecintaan dari Allah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam konstelasi sejarah peradaban, jarang ada sebuah bangsa yang perilakunya dibedah sedemikian saksama oleh teks wahyu selain kaum Yahudi. Di balik tembok-tembok kolonialisme modern dan manuver politik di Timur Tengah, tersimpan sebuah motiflama yang sering kali luput dari analisis politik sekuler: hasad atau kedengkian. Rasa iri yang akut ini bukan sekadar urusan personal, melainkan telah menjadi penggerak kolektif yang mendistorsi hubungan mereka dengan kebenaran dan kemanusiaan.

Dalam kitab Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Mu’ashirah, DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql menguraikan bagaimana sifat ini merupakan akar dari kerusakan yang mereka timbulkan. Menurut amatan para penulis tersebut, Yahudi adalah bangsa yang telah ditetapkan dalam hukum Allah sebagai pembuat makar. Kedengkian mereka tidak mengenal batas; ia merambah bahkan hingga ke wilayah petunjuk dan wahyu yang merupakan hak prerogatif Tuhan.

Al-Quran dalam Surah Al-Baqarah ayat 109 melukiskan fenomena ini dengan sangat dramatis. Sebagian besar Ahli Kitab memiliki hasrat yang menggebu untuk mengembalikan kaum mukminin kepada kekafiran. Mengapa? Bukan karena mereka tidak tahu kebenaran, melainkan karena dengki yang timbul dari dalam diri mereka sendiri. Kedengkian ini muncul tepat setelah kebenaran itu nyata bagi mereka. Ini adalah paradoks psikologis yang mengerikan: semakin jelas kebenaran itu, semakin besar bara api iri hati yang membakar dada mereka karena kebenaran tersebut tidak lahir dari kelompok mereka.

Sifat dengki ini kemudian bercabang pada kebencian terhadap karunia yang Allah berikan kepada pihak lain. Surah An-Nisa ayat 54 melontarkan pertanyaan retoris tentang apakah mereka dengki kepada manusia, dalam hal ini Nabi Muhammad, atas karunia yang Allah limpahkan kepadanya. Karunia kenabian, kepemimpinan, dan kemuliaan umat Islam menjadi duri dalam daging bagi eksklusivitas yang mereka agungkan. Bagi kaum yang merasa sebagai bangsa terpilih, melihat cahaya kebenaran berpindah ke tangan lain adalah sebuah penghinaan yang hanya bisa diobati dengan pengrusakan.

Interpretasi atas karakter ini membawa kita pada sifat turunannya yang lebih destruktif: kegemaran mengobarkan fitnah dan peperangan. Hasad tidak pernah berhenti pada perasaan pasif; ia selalu menuntut aksi. Ketika mereka melihat tatanan yang stabil dan penuh berkah di luar kelompok mereka, muncul dorongan untuk menciptakan kekacauan atau fasaad. Al-Quran dalam Surah Al-Maidah ayat 64 menggambarkan bahwa setiap kali mereka menyalakan api peperangan, Allah-lah yang memadamkannya. Namun, mereka tidak pernah berhenti berusaha melakukan kerusakan di muka bumi.

Para ulama dunia, termasuk Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sering kali menekankan bahwa perilaku ini merupakan bentuk pembangkangan sistematis. Mereka adalah penggerak di balik layar yang mencoba merongrong stabilitas masyarakat melalui adu domba dan provokasi. Dalam konteks modern, makar ini bisa dilihat dalam berbagai bentuk manipulasi informasi dan konflik geopolitik yang sengaja dipelihara untuk melemahkan kekuatan umat Islam.

Keadaan ini menuntut kewaspadaan tingkat tinggi bagi kaum muslimin. Mengidentifikasi sifat dengki sebagai motif utama membantu kita memahami mengapa perdamaian sering kali hanya menjadi jargon di bibir mereka, sementara tangan mereka sibuk menyiapkan kayu bakar untuk konflik baru. Sebagaimana dijelaskan oleh Adi Abdul Jabbar dalam ringkasannya, pengenalan terhadap akhlak mereka yang diambil dari Kitabullah dan Sunnah adalah benteng agar umat tidak mudah terperdaya oleh janji-janji manis yang dibalut makar.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya