home masjid

Ketidaksantunan Kaum Pembangkang: Karakter Rendah Adab dan Penghinaan Nabi oleh Bangsa Yahudi

Kamis, 09 April 2026 - 06:01 WIB
Bangsa yang tidak mampu menjaga lisan dan adabnya akan kehilangan wibawa di mata sejarah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Dalam catatan sejarah peradaban, adab dan lisan sering kali menjadi cermin dari ketinggian martabat sebuah bangsa. Namun, bagi kaum yang sejak lama dalam literatur Islam disebut sebagai pembuat makar, lisan bukan sekadar alat komunikasi, melainkan senjata untuk merendahkan derajat orang lain. Di balik klaim keunggulan rasial yang mereka agungkan, tersimpan sebuah tabiat yang jauh dari nilai-nilai kesantunan: kegemaran berkata jorok, tidak sopan, dan rendahnya etika berkomunikasi, bahkan kepada sosok yang paling dimuliakan Tuhan.

DR. Nashir bin Abdullah Al-Qifari dan DR. Nashir bin Abdul Karim Al-Aql, dalam karya mereka Al-Mujaz Fil Adyan Wal Madzahib Al-Muashirah, menguraikan bahwa kerusakan moral ini bukanlah sebuah kebetulan. Berdasarkan tinjauan Adi Abdul Jabbar atas kitab tersebut, sifat berkata jorok dan kurang adab ini lahir dari rasa sombong yang mendarah daging. Mereka memandang rendah umat-umat selain mereka, sebuah sikap eksklusivitas sempit yang memicu lahirnya kata-kata kotor dan penghinaan sistematis terhadap manusia lain, termasuk para nabi yang diutus kepada mereka.

Salah satu bukti historis yang paling mencolok terekam dalam interaksi mereka dengan Nabi Muhammad di Madinah. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah fragmen peristiwa yang memperlihatkan betapa licinnya lidah mereka dalam menyamarkan caci maki. Serombongan orang Yahudi mendatangi Rasulullah, namun alih-alih mengucapkan salam penghormatan as-salamu alaika (keselamatan atasmu), mereka memelintir ucapan tersebut menjadi as-samu alaika yang berarti kebinasaan atasmu.

Permainan kata ini mencerminkan sebuah mentalitas yang pengecut sekaligus jahat; sebuah upaya untuk menghina tanpa terlihat menyerang secara terbuka di hadapan umum. Namun, Rasulullah yang dibimbing oleh wahyu tidak membalas dengan kemarahan yang meluap. Beliau hanya menjawab dengan singkat: wa alaikum (dan atas kalian juga). Jawaban ini adalah bentuk keadilan tertinggi dalam Islam, di mana penghormatan dijawab dengan yang sepadan, sementara doa keburukan dikembalikan kepada pemulanya tanpa harus mengotori lisan dengan kosakata yang sama rendahnya.

Kebiasaan berkata tidak sopan ini menurut para ulama berakar dari pengingkaran mereka terhadap kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Ketika argumen intelektual mereka patah, lisan yang tajam dan jorok menjadi pelarian untuk menutupi kekalahan. Ketidaksantunan ini juga terlihat dalam literatur mereka sendiri yang sering kali menggambarkan para nabi dengan sifat-sifat yang tidak layak, sebuah penistaan yang bagi umat Islam merupakan puncak dari kurangnya adab terhadap kesucian nubuat.

Pelajaran dari karakter ini memberikan garis tegas bagi umat Islam dalam berinteraksi. Rasulullah mengajarkan bahwa ketika berhadapan dengan lisan yang kotor dari kaum kafir atau mereka yang memusuhi agama, seorang muslim harus tetap menjaga integritas bahasanya. Pengajaran untuk menjawab salam mereka dengan wa alaika adalah sebuah protokol diplomatik sekaligus edukasi akhlak. Islam mengakui bahwa orang yang memulai kejelekan adalah pihak yang lebih zhalim, namun pengikut Muhammad tidak diperkenankan menjadi zhalim hanya karena menghadapi orang zhalim.

Interpretasi atas sifat ini juga memberikan perspektif luas dalam melihat perilaku propaganda di era modern. Ketidaksantunan dan upaya merendahkan martabat bangsa lain sering kali dibungkus dalam narasi-narasi yang seolah intelek, padahal substansinya tetaplah penghinaan. Memahami bahwa kekurangan adab adalah salah satu sifat bawaan yang diwariskan dari para pendahulu mereka yang membangkang, membuat umat Islam tidak akan terkejut dengan berbagai ujaran kebencian yang muncul di panggung global hari ini.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya