home masjid

Akidah Ahlus Sunnah: Malaikat Maut Bukan Bernama Izrail dalam Dalil Shahih

Ahad, 12 April 2026 - 05:00 WIB
Memahami hakikat Malaikat Maut adalah bagian dari persiapan menghadapi kenyataan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Kematian sering kali digambarkan sebagai sosok berjubah hitam dengan sabit besar dalam tradisi Barat, atau sebagai figur menyeramkan dalam berbagai mitologi dunia. Namun, dalam cakrawala akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, kematian memiliki wajah yang jauh lebih formal, birokratis, namun pasti: seorang malaikat yang diberi mandat khusus oleh Sang Pencipta. Kehadirannya adalah kepastian yang melintasi batas strata sosial, kekuasaan, dan usia.

Asraf bin Abdil Maqsud bin Abdirrahim dalam bukunya, Kubur Yang Menanti: Kehidupan Sedih dan Gembira di Alam Kubur, membedah secara kritis bagaimana umat Islam seharusnya memandang sosok ini. Merujuk pada naskah yang diterbitkan oleh Pustaka Ibnu Katsir tersebut, literatur Ahlus Sunnah memegang teguh prinsip bahwa pengetahuan tentang malaikat maut harus bersandar sepenuhnya pada teks-teks otoritatif, yakni Al-Quran dan Hadis shahih, bukan pada asumsis atau tradisi tutur yang berkembang liar.

Satu poin krusial yang diangkat dalam buku tersebut adalah mengenai identitas sang malaikat. Selama berabad-abad, masyarakat muslim akrab dengan nama Izrail sebagai sebutan bagi malaikat pencabut nyawa. Namun, Asraf bin Abdil Maqsud memberikan catatan korektif yang tajam.

Menurutnya, penamaan Izrail atau nama-nama spesifik lainnya sama sekali tidak memiliki pijakan dalam dalil-dalil yang shahih. Nama tersebut lebih besar kemungkinannya bersumber dari riwayat Israiliyyat, yakni cerita-cerita yang berasal dari tradisi ahli kitab terdahulu yang merembes ke dalam literatur Islam tanpa verifikasi sanad yang kuat.

Akidah Ahlus Sunnah lebih memilih untuk menyebutnya dengan terminologi Malakul Maut atau Malaikat Maut, sebagaimana yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Quran Surah As-Sajdah ayat 11. Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan Nabi untuk menyatakan bahwa Malaikat Maut yang diserahi tugaslah yang akan mematikan manusia sebelum mereka dikembalikan kepada Tuhan. Penamaan ini bukan sekadar urusan semantik, melainkan upaya menjaga kemurnian tauhid dari infiltrasi informasi yang tidak valid.

Namun, menganggap Malaikat Maut bekerja sendirian di seluruh penjuru alam semesta yang luas ini adalah sebuah kekeliruan interpretatif. Asraf bin Abdil Maqsud, melalui terjemahan Beni Sarbeni, menjelaskan bahwa sang eksekutor utama ini memiliki rekan-rekan atau pembantu yang disebut sebagai rusuluna atau utusan-utusan Kami. Hal ini ditegaskan dalam Surah Al-Anam ayat 61. Ayat ini memberikan gambaran tentang sebuah sistem kerja yang terorganisir dan tidak pernah melalaikan kewajiban. Para malaikat pembantu ini bertugas menjemput roh hingga ke tenggorokan, sebelum akhirnya dieksekusi oleh sang pemimpin malaikat maut.

Interpretasi atas mekanisme pencabutan nyawa ini memberikan perspektif bahwa kematian adalah sebuah proses administratif Allah Taala yang sangat rapi. Tidak ada roh yang tertukar, tidak ada jadwal yang meleset, dan tidak ada negosiasi di detik-detik terakhir. Keberadaan para pembantu malaikat maut ini menunjukkan bahwa meskipun kematian terjadi serentak di berbagai belahan bumi, otoritas ketuhanan tetap terjaga melalui hierarki yang sempurna.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya