Para Ulama Pesantren Madura Yang Tergabung Dalam BASSRA Berkumpul Bahas Citra Madura
Sururi al faruq
Ahad, 12 April 2026 - 05:00 WIB
Para Ulama Pesantren Madura Yang Tergabung Dalam BASSRA Berkumpul Bahas Citra Madura
LANGIT7.ID-Surabaya; Para ulama dari pesantren Madura yang tergabung dalam Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura (BASSRA) Jumat (10/4/2026) berkumpul di PLN UID Surabaya. Mereka menggelar halal bilhalal dan bedah buku Sejarah BASSRA: Potret Perjuangan Ulama Madura.
Kegiatan ini menghadirkan refleksi tentang peran ulama pesantren tidak hanya sebagai penjaga nilai moral, tetapi juga sebagai aktor sosial yang responsif dalam merespons dinamika pembangunan dan berbagai stigma yang berkembang di ruang publik.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas latar belakang, yakni Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, Guru Besar Sejarah Pemikiran Islam Klasik UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. KH. Muhamad Aunul Abied Shah, Pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Torjun, Sampang, Ahmad Mustaqir, General Manager PLN IUD Jawa Timur, serta Dr. Adam Muhshi, pakar Hukum Tata Negara Universitas Airlangga. Para narasumber mengulas perjalanan dan peran ulama pesantren Madura dalam merespons perubahan sosial, kebijakan publik, serta tantangan besar terkait citra Madura di mata masyarakat luas.
Acara ini diselenggarakan oleh Badan Silaturahmi Ulama’ Pesantren Madura (BASSRA), dengan Koordinator Pusat saat ini adalah RKH Muhammad Rofiie Baidhowi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hamidy Banyuanyar, Pamekasan.
Kegiatan ini dihadiri para ulama pesantren Madura lintas daerah yang tergabung dalam BASSRA, termasuk para Koordinator Daerah dari berbagai kabupaten di Madura. Dari Kabupaten Bangkalan hadir KH Imam Bukhori Kholil AG dan KH Makki Nashir yang memimpin doa. Dari Kabupaten Sampang hadir KH Syafiuddin Abdul Wahed, Rais Syuriyah PCNU Sampang yang memimpin tawassul dan pembacaan al Fatihah, bersama KH Mahrus Malik. Dari Kabupaten Pamekasan hadir RKH Mudatsir Badruddin dan KH Ali Rahbini. Sementara itu, dari Kabupaten Sumenep hadir Dr. KH Ahmad Fauzi Tidjani, MA dan juga dihadiri oleh Abuya KH Busyro Karim. Kehadiran para Koordinator Daerah tersebut menegaskan soliditas jejaring ulama pesantren Madura dalam satu wadah silaturahmi dan perjuangan kolektif.
Dalam diskusi yang berlangsung, para ulama menyoroti kuatnya narasi negatif tentang Madura yang kerap viral di ruang publik, seperti kesan udik, keras, atau identik dengan kekerasan, sementara sisi-sisi positif Madura jarang mendapatkan ruang yang seimbang. Padahal, Madura memiliki jaringan pesantren yang sangat padat, tradisi ritual dan spiritual yang hidup, serta kontribusi besar dalam pendidikan, dakwah, dan pembentukan karakter masyarakat. Karena itu, BASSRA menegaskan pentingnya counter informasi positif, yakni upaya sadar untuk melawan narasi negatif yang berkembang luas dengan menghadirkan berita-berita baik tentang Madura dan orang Madura, termasuk praktik keilmuan, pendidikan pesantren, kehidupan spiritual, serta berbagai prestasi masyarakat Madura di tingkat lokal maupun nasional.
Pada saat yang sama, ditegaskan bahwa perjuangan ulama BASSRA tidak berhenti pada kerja kultural dan narasi publik, tetapi juga diwujudkan dalam upaya nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura. Selama ini, BASSRA dikenal aktif memperjuangkan kepentingan petani garam dan tembakau melalui dorongan tata niaga yang lebih adil dan berpihak pada petani serta pengusaha lokal Madura. Ikhtiar tersebut dipandang penting agar sumber daya ekonomi Madura tidak terus dikelola melalui sistem yang merugikan masyarakat di tingkat akar rumput.
Kegiatan ini menghadirkan refleksi tentang peran ulama pesantren tidak hanya sebagai penjaga nilai moral, tetapi juga sebagai aktor sosial yang responsif dalam merespons dinamika pembangunan dan berbagai stigma yang berkembang di ruang publik.
Forum tersebut menghadirkan sejumlah narasumber lintas latar belakang, yakni Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, Guru Besar Sejarah Pemikiran Islam Klasik UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr. KH. Muhamad Aunul Abied Shah, Pengasuh Pondok Pesantren Darus Salam Torjun, Sampang, Ahmad Mustaqir, General Manager PLN IUD Jawa Timur, serta Dr. Adam Muhshi, pakar Hukum Tata Negara Universitas Airlangga. Para narasumber mengulas perjalanan dan peran ulama pesantren Madura dalam merespons perubahan sosial, kebijakan publik, serta tantangan besar terkait citra Madura di mata masyarakat luas.
Acara ini diselenggarakan oleh Badan Silaturahmi Ulama’ Pesantren Madura (BASSRA), dengan Koordinator Pusat saat ini adalah RKH Muhammad Rofiie Baidhowi, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hamidy Banyuanyar, Pamekasan.
Kegiatan ini dihadiri para ulama pesantren Madura lintas daerah yang tergabung dalam BASSRA, termasuk para Koordinator Daerah dari berbagai kabupaten di Madura. Dari Kabupaten Bangkalan hadir KH Imam Bukhori Kholil AG dan KH Makki Nashir yang memimpin doa. Dari Kabupaten Sampang hadir KH Syafiuddin Abdul Wahed, Rais Syuriyah PCNU Sampang yang memimpin tawassul dan pembacaan al Fatihah, bersama KH Mahrus Malik. Dari Kabupaten Pamekasan hadir RKH Mudatsir Badruddin dan KH Ali Rahbini. Sementara itu, dari Kabupaten Sumenep hadir Dr. KH Ahmad Fauzi Tidjani, MA dan juga dihadiri oleh Abuya KH Busyro Karim. Kehadiran para Koordinator Daerah tersebut menegaskan soliditas jejaring ulama pesantren Madura dalam satu wadah silaturahmi dan perjuangan kolektif.
Dalam diskusi yang berlangsung, para ulama menyoroti kuatnya narasi negatif tentang Madura yang kerap viral di ruang publik, seperti kesan udik, keras, atau identik dengan kekerasan, sementara sisi-sisi positif Madura jarang mendapatkan ruang yang seimbang. Padahal, Madura memiliki jaringan pesantren yang sangat padat, tradisi ritual dan spiritual yang hidup, serta kontribusi besar dalam pendidikan, dakwah, dan pembentukan karakter masyarakat. Karena itu, BASSRA menegaskan pentingnya counter informasi positif, yakni upaya sadar untuk melawan narasi negatif yang berkembang luas dengan menghadirkan berita-berita baik tentang Madura dan orang Madura, termasuk praktik keilmuan, pendidikan pesantren, kehidupan spiritual, serta berbagai prestasi masyarakat Madura di tingkat lokal maupun nasional.
Pada saat yang sama, ditegaskan bahwa perjuangan ulama BASSRA tidak berhenti pada kerja kultural dan narasi publik, tetapi juga diwujudkan dalam upaya nyata meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura. Selama ini, BASSRA dikenal aktif memperjuangkan kepentingan petani garam dan tembakau melalui dorongan tata niaga yang lebih adil dan berpihak pada petani serta pengusaha lokal Madura. Ikhtiar tersebut dipandang penting agar sumber daya ekonomi Madura tidak terus dikelola melalui sistem yang merugikan masyarakat di tingkat akar rumput.