home masjid

Bedah Akidah: Mengurai Fakta Kelahiran Isa Al-Masih dalam Perspektif Al-Quran

Selasa, 14 April 2026 - 04:00 WIB
Kelahiran Isa tanpa ayah bukan bukti bahwa ia anak Tuhan, melainkan bukti bahwa Tuhan tidak memerlukan perantara biologis untuk menciptakan kehidupan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID - Sejarah Bani Israil adalah potret sebuah kaum yang sering kali terjebak dalam kekakuan nalar materialisme. Mereka adalah umat yang menuntut bukti empiris untuk setiap kebenaran, termasuk kebenaran Allah Taala. Di tengah kebekuan spiritual itulah, Allah mengutus tanda ketiga yang paling mengguncang: kelahiran Isa putra Maryam. Sebuah peristiwa yang meruntuhkan tatanan logika manusia tentang sebab-akibat.

Dalam buku Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang, Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria memaparkan bahwa kelahiran Isa adalah puncak dari rangkaian ayat atau tanda kebesaran Allah bagi Bani Israil.

Narasi ini terekam secara dramatis dalam Surah Maryam. Kisah bermula ketika Maryam, seorang wanita suci dari keluarga pilihan, mengasingkan diri ke sebuah tempat di timur Baitul Maqdis. Di balik hijab pingitannya, ia didatangi oleh Ruhul Qudus, Jibril, yang menjelma menjadi manusia sempurna.

Ketakutan Maryam saat itu adalah representasi dari kesucian dirinya. Namun, Jibril datang bukan untuk menodai, melainkan membawa kabar tentang hiba, sebuah pemberian berupa anak laki-laki yang suci (ghulaman zakiyya).

Pertanyaan Maryam, "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku?" adalah gugatan nalar manusiawi yang paling mendasar. Jawaban Allah sangat singkat namun otoritatif: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku."

Peristiwa ini sebagai dekonstruksi total terhadap hukum alam. Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria menjelaskan bahwa melalui penciptaan manusia, Allah menunjukkan empat variasi kekuasaan-Nya.

Pertama, menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu. Kedua, menciptakan Hawa dari tulang rusuk tanpa ibu. Ketiga, menciptakan Isa dari rahim ibu tanpa ayah. Dan keempat, menciptakan manusia pada umumnya dari pasangan laki-laki dan perempuan. Skema ini menutup celah bagi siapa pun untuk meragukan kemahakuasaan Tuhan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya