Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 April 2026
home masjid detail berita

Bedah Akidah: Mengurai Fakta Kelahiran Isa Al-Masih dalam Perspektif Al-Quran

miftah yusufpati Selasa, 14 April 2026 - 04:00 WIB
Bedah Akidah: Mengurai Fakta Kelahiran Isa Al-Masih dalam Perspektif Al-Quran
Kelahiran Isa tanpa ayah bukan bukti bahwa ia anak Tuhan, melainkan bukti bahwa Tuhan tidak memerlukan perantara biologis untuk menciptakan kehidupan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID - Sejarah Bani Israil adalah potret sebuah kaum yang sering kali terjebak dalam kekakuan nalar materialisme. Mereka adalah umat yang menuntut bukti empiris untuk setiap kebenaran, termasuk kebenaran Allah Taala. Di tengah kebekuan spiritual itulah, Allah mengutus tanda ketiga yang paling mengguncang: kelahiran Isa putra Maryam. Sebuah peristiwa yang meruntuhkan tatanan logika manusia tentang sebab-akibat.

Dalam buku Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang, Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria memaparkan bahwa kelahiran Isa adalah puncak dari rangkaian ayat atau tanda kebesaran Allah bagi Bani Israil.

Narasi ini terekam secara dramatis dalam Surah Maryam. Kisah bermula ketika Maryam, seorang wanita suci dari keluarga pilihan, mengasingkan diri ke sebuah tempat di timur Baitul Maqdis. Di balik hijab pingitannya, ia didatangi oleh Ruhul Qudus, Jibril, yang menjelma menjadi manusia sempurna.

Ketakutan Maryam saat itu adalah representasi dari kesucian dirinya. Namun, Jibril datang bukan untuk menodai, melainkan membawa kabar tentang hiba, sebuah pemberian berupa anak laki-laki yang suci (ghulaman zakiyya).

Pertanyaan Maryam, "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku?" adalah gugatan nalar manusiawi yang paling mendasar. Jawaban Allah sangat singkat namun otoritatif: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku."

Peristiwa ini sebagai dekonstruksi total terhadap hukum alam. Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria menjelaskan bahwa melalui penciptaan manusia, Allah menunjukkan empat variasi kekuasaan-Nya.

Pertama, menciptakan Adam tanpa ayah dan ibu. Kedua, menciptakan Hawa dari tulang rusuk tanpa ibu. Ketiga, menciptakan Isa dari rahim ibu tanpa ayah. Dan keempat, menciptakan manusia pada umumnya dari pasangan laki-laki dan perempuan. Skema ini menutup celah bagi siapa pun untuk meragukan kemahakuasaan Tuhan.

Detik-detik kelahiran Isa digambarkan dengan sangat manusiawi dalam Al-Quran. Maryam mengalami rasa sakit yang luar biasa (al-makhad) hingga ia bersandar pada pangkal pohon kurma. Dalam kesunyian dan rasa sakit yang memuncak, ia sempat berucap bahwa lebih baik ia mati dan dilupakan. Namun, bantuan Tuhan datang melalui air sungai yang mengalir di bawahnya dan buah kurma masak yang jatuh setelah ia menggoyang pohonnya. Ini adalah pesan bahwa meski mukjizat itu ada, ikhtiar fisik tetap menjadi bagian dari skenario kehidupan.

Drama sesungguhnya terjadi saat Maryam kembali ke kaumnya dengan menggendong sang bayi. Bani Israil, yang dikenal tajam lidahnya, langsung menghujani Maryam dengan tuduhan keji. "Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina." Dalam tekanan sosial yang luar biasa itu, Maryam hanya menunjuk kepada bayinya.

Maka, terjadilah mukjizat pertama Isa: berbicara dalam buaian. Kalimat pertama yang keluar dari mulut bayi itu bukanlah klaim ketuhanan, melainkan pengakuan menghamba. "Sesungguhnya aku ini hamba Allah (Inni abdullah)." Pernyataan ini secara otomatis menggugurkan klaim-klaim di masa depan yang akan mengangkatnya sebagai anak Tuhan atau bagian dari trinitas. Isa menegaskan posisinya sebagai nabi yang diberkati, pembawa kitab Injil, dan individu yang diperintahkan untuk shalat, zakat, serta berbakti kepada ibunya.

Lahir di tengah kevakuman risalah, Isa hadir dengan mukjizat yang selaras dengan perkembangan zaman saat itu, yakni pengobatan dan metafisika. Ia menghidupkan orang mati, menyembuhkan yang buta, dan mengetahui rahasia di balik dinding rumah manusia. Namun, semua itu dilakukan dengan izin Allah untuk mengajak kaumnya kembali pada tauhid yang murni.

Melalui naskah yang dinukil dari karya Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria, Al-Quran secara gamblang membantah klaim kaum Nashrani. Kelahiran Isa tanpa ayah bukan bukti bahwa ia anak Tuhan, melainkan bukti bahwa Tuhan tidak memerlukan perantara biologis untuk menciptakan kehidupan. Itulah perkataan yang benar tentang Isa putra Maryam, di tengah perdebatan panjang manusia yang tak kunjung usai.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
TOPIK TERPOPULER
Terpopuler 0 doa
4 snbt
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)