Carlos Alcaraz Kembali Buktikan Diri sebagai Role Model Petenis Lewat Sikapnya Usai Kalah di Final Monte Carlo
Sururi al faruq
Selasa, 14 April 2026 - 09:10 WIB
Carlos Alcaraz Kembali Buktikan Diri sebagai Role Model Petenis Lewat Sikapnya Usai Kalah di Final Monte Carlo
LANGIT7.ID-Jakarta; Carlos Alcaraz gagal mempertahankan gelar juara Monte Carlo pada Minggu (5/4) usai dikalahkan Jannik Sinner di partai puncak.
Baik Alcaraz maupun Sinner sama-sama kesulitan menghadapi kondisi berangin di Monaco, dengan total 83 kesalahan sendiri yang dibuat keduanya sepanjang pertandingan.
Sinner akhirnya keluar sebagai pemenang, membungkam petenis Spanyol itu dengan skor 7-6, 6-3. Meski kekalahannya yang menyakitkan serta bikin malu itu, karena mahkotanya no 1 dunia hilang, Alcaraz tampil seperti biasa: rendah hati. Ia mengungkapkan rasa bahagianya melihat Sinner meraih gelar sekaligus memuji performa impresif petenis Italia tersebut.
Alcaraz telah menjelma sebagai salah satu panutan terbesar di olahraga tenis, dan sikapnya usai upacara penyerahan trofi semakin memperkuat anggapan itu.
Usai kekalahan di final Monte Carlo, Carlos Alcaraz pastilah merasa kecewa setelah dikalahkan salah satu rival terberatnya.
Namun, pemuda 22 tahun itu mengesampingkan segala perasaan negatif dan justru menunjukkan kedewasaan yang melampaui usianya.
Sepanjang kariernya yang masih muda, Alcaraz berulang kali membuktikan bahwa ia adalah salah satu petenis paling santun dan baik hati di sirkuit: seorang pemain yang tetap rendah hati saat kalah dan selalu bersedia berinteraksi dengan penggemar—dalam situasi apa pun.
Baik Alcaraz maupun Sinner sama-sama kesulitan menghadapi kondisi berangin di Monaco, dengan total 83 kesalahan sendiri yang dibuat keduanya sepanjang pertandingan.
Sinner akhirnya keluar sebagai pemenang, membungkam petenis Spanyol itu dengan skor 7-6, 6-3. Meski kekalahannya yang menyakitkan serta bikin malu itu, karena mahkotanya no 1 dunia hilang, Alcaraz tampil seperti biasa: rendah hati. Ia mengungkapkan rasa bahagianya melihat Sinner meraih gelar sekaligus memuji performa impresif petenis Italia tersebut.
Alcaraz telah menjelma sebagai salah satu panutan terbesar di olahraga tenis, dan sikapnya usai upacara penyerahan trofi semakin memperkuat anggapan itu.
Usai kekalahan di final Monte Carlo, Carlos Alcaraz pastilah merasa kecewa setelah dikalahkan salah satu rival terberatnya.
Namun, pemuda 22 tahun itu mengesampingkan segala perasaan negatif dan justru menunjukkan kedewasaan yang melampaui usianya.
Sepanjang kariernya yang masih muda, Alcaraz berulang kali membuktikan bahwa ia adalah salah satu petenis paling santun dan baik hati di sirkuit: seorang pemain yang tetap rendah hati saat kalah dan selalu bersedia berinteraksi dengan penggemar—dalam situasi apa pun.