home masjid

Akidah Imam Syafi’i: Siksa Kubur Bukan Mitos, Melainkan Kebenaran Mutlak

Sabtu, 18 April 2026 - 16:04 WIB
Di bawah tanah yang sunyi, ada dialog yang akan terjadi, dan ada balasan yang akan dirasakan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Kematian sering kali dianggap sebagai garis akhir dari segala hiruk-pikuk keduniawian. Namun, dalam cakrawala pemikiran teologis Imam Syafi’i, masuknya seseorang ke dalam liang lahat justru merupakan gerbang menuju babak baru yang penuh dengan konsekuensi. Di saat kelompok-kelompok rasionalis ekstrem di masa lalu mencoba mereduksi esensi kehidupan setelah mati sebagai sekadar ketiadaan, sang arsitek madzhab besar ini justru mengukuhkan posisi yang sangat tegas: adzab kubur dan pertanyaan malaikat adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditawar.

Dalam kitab Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah yang disusun oleh Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-Aqil, terekam sebuah pernyataan ringkas namun memiliki bobot teologis yang sangat berat. Imam Syafi’i menegaskan:

وَ أَنَّ عَذَابَ القّبْرِ حَقٌّ وَ مُسَاءَلَةَ أَهْلِ القُبُوْرِ حَقٌّ

Sesungguhnya adzab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar.

Pernyataan ini bukan sekadar bunga rampai kata-kata, melainkan sebuah maklumat aqidah yang memisahkan antara Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan kelompok yang menuhankan rasio semata. Bagi Imam Syafi’i, meyakini apa yang terjadi di balik gundukan tanah adalah bagian dari rukun iman kepada hari akhir. Ia melampaui logika fisik manusia yang hanya melihat jasad membeku, menuju keyakinan akan eksistensi ruh yang akan mempertanggungjawabkan setiap embusan napas di dunia.

Keyakinan ini merupakan antitesis terhadap pemikiran kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah di zamannya yang sering kali meragukan siksa kubur karena dianggap tidak masuk akal secara empiris. Syafi’i, dengan ketajaman ushul-nya, menunjukkan bahwa keterbatasan panca indera manusia tidak boleh menjadi tolok ukur kebenaran wahyu. Jika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkannya, maka bagi Syafi’i, hal tersebut telah menjadi kebenaran mutlak yang melampaui fakta laboratorium mana pun.

Dalam berbagai literatur klasik, seperti Al-Umm maupun biografi yang ditulis oleh para muridnya, Syafi’i memandang alam barzakh sebagai filter pertama sebelum hari kiamat. Di sana, manusia akan berhadapan dengan fitnah kubur—sebuah ujian berupa pertanyaan dari malaikat Munkar dan Nakir mengenai Tuhan, agama, dan nabi. Keberhasilan melewati fase ini akan membukakan pintu kenikmatan, sementara kegagalan akan berujung pada adzab yang nyata.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya