home masjid

Pandangan Fikih dan Akidah Imam Syafi’i Mengenai Aliran Syiah Rafidhah

Senin, 20 April 2026 - 15:00 WIB
beragama haruslah berlandaskan pada kebenaran fakta dan kebersihan hati terhadap sesama mukmin, terutama mereka yang telah berjasa menyebarkan Islam di masa awal. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam panggung sejarah Islam abad kedua hijriah, Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i muncul sebagai sosok yang tak hanya piawai dalam merumuskan hukum, tetapi juga sangat peka terhadap dinamika sosial-politik dan aliran pemikiran yang berkembang. Salah satu sikap yang paling tajam dan sering dibahas dalam berbagai literatur adalah pandangannya terhadap kelompok yang ia sebut sebagai Rafidhah, sebuah faksi dalam spektrum Syiah yang dikenal karena penolakannya terhadap kepemimpinan sahabat Nabi selain Ali bin Abi Thalib.

Kritik Imam Syafi’i terhadap kelompok ini terekam kuat dalam narasi para muridnya. Yunus bin Abdul Ala, salah satu murid terdekatnya, memberikan kesaksian dalam naskah yang terhimpun dalam biografi dan catatan Madzhab Syafi’i:

عَنْ يُوْنُسِ بْنِ عَبْد الأَعْلِى يَقُوْلُ : سَمِعْتُ الشَّافِعِي إِذَا ذُكِرَ الرَّافِضَةُ عَابَهُمْ أَشَّدَّ الْعَيْبِ فَيَقُوْلُ شَرَّ عِصَابَةِ

Dari Yunus bin Abdul Ala, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: Kelompok terjelek. (Manaqib asy-Syafi’i, Al-Baihaqi, 2/486).

Mengapa seorang Imam yang dikenal moderat dan lembut dalam lisan bisa bersuara sedemikian keras? Penjelasannya terletak pada persoalan integritas. Imam Syafi’i melihat adanya cacat moral yang sistematis dalam cara kelompok tersebut membangun narasi. Beliau menyatakan dengan lugas:

لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَد بِالزُّوْرِ مِنَ الرَّافِضَةِ

Saya belum melihat seorang pun yang paling banyak bersaksi palsu dari Syi’ah Rafidhah. (Adab asy-Syafi’i wa Manaqibuhu, Ibnu Abi Hatim, halaman 144; dan riwayat senada dalam Al-Umm).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya