home masjid

Wasiat Imam Syafi’i: Utamakan Hadits Shahih di Atas Pendapat Pribadi

Selasa, 21 April 2026 - 04:00 WIB
Imam Syafii mewanti-wanti para pengikutnya untuk selalu mendahulukan hadits yang shahih. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dalam dunia yang semakin riuh dengan informasi yang dangkal, suara Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i kembali hadir sebagai pengingat tentang esensi intelektualitas. Bagi sang Imam, ilmu bukanlah pajangan gelar, melainkan sebuah pencarian yang melibatkan seluruh indra dan perasaan. Ia tidak memandang ilmu sebagai beban, melainkan sebagai kenikmatan yang bahkan ingin ia rasakan di setiap inci anggota tubuhnya.

Dalam catatan Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi yang dihimpun dalam risalah Mawafiq Muatstsirah min Siratil Imamis Syafi’i (2014), terekam sebuah dialektika yang mendalam tentang bagaimana Imam Syafi’i memetakan prioritas pengetahuan. Beliau membagi ilmu menjadi dua poros utama: ilmu fikih untuk urusan agama dan ilmu kedokteran untuk urusan dunia. Di luar itu, ia memandangnya sebagai pelengkap yang jika tidak berhati-hati bisa jatuh pada kesia-siaan. Penegasan ini bukan berarti anti-sains, melainkan sebuah upaya sistematisasi fokus agar manusia tidak kehilangan arah dalam belantara informasi.

Gairah Imam Syafi’i terhadap ilmu digambarkan melalui metafora yang sangat emosional. Saat ditanya tentang bagaimana ia mencari ilmu, sang Imam menjawab bahwa ia mencarinya seperti seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya. Sebuah gambaran kepedihan sekaligus kegigihan yang luar biasa. Semangatnya ia ibaratkan seperti orang pelit yang sangat rakus mengumpulkan harta.

Menurut Christopher Melchert dalam buku The Formation of the Sunni Schools of Law (1997), etos kerja intelektual semacam inilah yang membuat Imam Syafi’i mampu melakukan pengembaraan lintas wilayah, dari Gaza, Makah, Madinah, hingga Irak dan Mesir.

Pandangan Imam Syafi’i tentang keutamaan ilmu juga melampaui rutinitas ibadah ritual harian. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa membaca hadits dan menuntut ilmu itu lebih utama daripada mengerjakan shalat sunnah. Ini adalah pesan teologis yang kuat bahwa pemahaman (al-fahm) merupakan prasyarat dari pengabdian. Tanpa pemahaman yang benar melalui ilmu fikih dan hadits, ritual hanya akan menjadi gerakan tanpa ruh. Beliau melantunkan bait syair yang melegenda:

Setiap ilmu selain al-Qur’an adalah kesibukan

Kecuali hadits dan ilmu fikih dalam agama
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya