home masjid

Al-Walid bin Al-Mughirah: Kisah Pengakuan Jujur Sang Pakar Sastra Arab Terhadap Al-Quran

Rabu, 22 April 2026 - 15:43 WIB
Al-Walid bin Al-Mughirah, meski secara batin mengakui keagungan Al-Quran, lebih memilih menjadi martir bagi kesesatannya sendiri. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di tengah hiruk pikuk kota Makkah abad ke-7, sebuah peristiwa penting terjadi di kediaman Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Al-Walid bin Al-Mughirah, seorang aristokrat Quraisy yang menyandang status sebagai pakar sastra tertinggi, datang mendengar lantunan ayat Al-Quran. Peristiwa ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan konfrontasi antara keindahan wahyu dengan puncak estetika bahasa manusia.

Dalam kitab Shahihus Siratin Nabawiyyah karya Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani (hlm. 158-163), dikisahkan bagaimana Al-Walid bersimpati setelah mendengar ayat-ayat tersebut. Sebagai seorang ahli yang memahami seluk beluk syiir, rajaz, qasidah, hingga apa yang mereka sebut syiir jin, telinga Al-Walid menangkap frekuensi yang berbeda. Ia menyadari bahwa apa yang dibacakan Muhammad bukanlah gubahan manusia.

Namun, kejujuran intelektual Al-Walid segera berbenturan dengan realitas politik. Kabar simpatinya Al-Walid sampai ke telinga Abu Jahal, sang dirigen oposisi Quraisy. Abu Jahal sadar betul, jika Al-Walid—sang patron kebudayaan—tunduk pada Al-Quran, maka legitimasi kekuasaan Quraisy akan runtuh. Dengan lihai, Abu Jahal mendatangi Al-Walid, menggunakan umpan ego dan harta. Ia memprovokasi bahwa kaum Quraisy sedang mengumpulkan donasi untuk Al-Walid karena mengira ia telah menghamba pada Muhammad demi materi.

Pernyataan Al-Walid di hadapan Abu Jahal sebenarnya adalah sebuah persaksian yang sangat kuat bagi otentisitas Al-Quran. Ia berkata: Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih paham dariku tentang syiir-syiir. Demi Allah, perkataannya sama sekali tidak menyerupai semua itu. Sesungguhnya perkataannya itu, bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya banyak airnya. Ucapannya itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya.

Metafora bagian atas berbuah dan bagian bawah banyak airnya yang diucapkan Al-Walid merupakan pengakuan bahwa Al-Quran memiliki keindahan estetika sekaligus kedalaman makna yang menyegarkan jiwa. Namun, Abu Jahal mendesak Al-Walid untuk tetap melontarkan celaan demi menenangkan kaumnya. Di sinilah letak tragedi intelektual tersebut. Al-Walid memilih untuk berpikir keras guna mencari celah di tengah kesempurnaan. Akhirnya, demi menjaga harmoni politik kesukuan, ia mengeluarkan pernyataan yang dianggap paling aman namun kontradiktif: Ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari dari orang lain.

Atas pengingkaran yang lahir dari kesombongan tersebut, Allah menurunkan wahyu dalam surat Al-Muddatstsir ayat 11-13:

ذَرْنِي وَمَنْ خَلَقْتُ وَحِيدًا . وَجَعَلْتُ لَهُ مَالًا مَمْدُودًا . وَبَنِينَ شُهُودًا
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya