Bahaya Sekularisme di Institusi Pendidikan: Jejak Orientalis dalam Kedok Penelitian
Miftah yusufpati
Jum'at, 24 April 2026 - 05:39 WIB
Hati-hati terhadap mereka yang menukar orisinalitas wahyu dengan pujian dari Chicago atau lembaga riset internasional. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di meja-meja riset para orientalis, sebuah perang jenis baru sedang berkecamuk. Ia bukan perang yang riuh dengan desing peluru, melainkan perang yang sunyi dengan peluru berupa ideologi dan dekonstruksi. Inilah yang menjadi kegelisahan utama Syaikh Salim bin Ied al-Hilali dalam kitabnya, Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin. Ia membedah bagaimana gembong kekafiran memproduksi kepanjangan tangan mereka justru dari rahim negeri kaum muslimin sendiri.
Dalam perspektif Syaikh Salim, ada dua pintu utama yang digunakan untuk memasukkan pengaruh tersebut. Pertama adalah pengiriman pelajar ke universitas-universitas Barat. Di sana, para intelektual muda sering kali mengalami apa yang disebut sebagai pencucian otak. Mereka pulang tidak membawa solusi bagi kemaslahatan umat, melainkan membawa racun-racun pemikiran yang telah diformat ulang oleh tuan-tuan mereka. Kedua, melalui penyusupan para orientalis yang bergerak di bawah simbol-simbol penelitian ilmiah dan objektivitas riset.
Fenomena ini sebenarnya telah diramalkan dalam dialog legendaris antara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Hudzaifah bin Al-Yaman. Ketika Nabi memperingatkan munculnya dai-dai yang berdiri di pintu neraka Jahanam, beliau memberikan deskripsi fisik dan sosiologis yang mengejutkan:
قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا
Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita.
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (13/36) memberikan interpretasi tajam terhadap kalimat ini. Ia menyebutkan bahwa para penyesat ini berasal dari bangsa kita sendiri, berbicara dengan bahasa kita, dan secara lahiriah memeluk agama kita. Al-Qoobisy menambahkan dimensi lain: secara dhohir mereka tampak membela agama, namun secara batin mereka menyelisihi prinsip-prinsip dasarnya. Inilah yang dalam kacamata sosiologi politik disebut sebagai "agen lokal" yang menjalankan kepentingan transnasional.
Tokoh-tokoh ini sering kali menampakkan kesungguhan dalam mencari solusi bagi ketertinggalan umat. Mereka menggunakan retorika yang memikat dan gaya bahasa yang intelek. Namun, di balik itu, mereka mengadopsi pola pikir Marjilius atau orientalis Yahudi lainnya. Salah satu contoh yang disorot oleh Syaikh Salim adalah Thoha Husein di Mesir. Sosok yang dijuluki pujangga Arab ini sempat memicu kontroversi hebat ketika narasinya dianggap lebih mengunggulkan sastra jahiliyah ketimbang Al-Quran—sebuah tesis yang berakar kuat pada pemikiran orientalisme Barat.
Dalam perspektif Syaikh Salim, ada dua pintu utama yang digunakan untuk memasukkan pengaruh tersebut. Pertama adalah pengiriman pelajar ke universitas-universitas Barat. Di sana, para intelektual muda sering kali mengalami apa yang disebut sebagai pencucian otak. Mereka pulang tidak membawa solusi bagi kemaslahatan umat, melainkan membawa racun-racun pemikiran yang telah diformat ulang oleh tuan-tuan mereka. Kedua, melalui penyusupan para orientalis yang bergerak di bawah simbol-simbol penelitian ilmiah dan objektivitas riset.
Fenomena ini sebenarnya telah diramalkan dalam dialog legendaris antara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Hudzaifah bin Al-Yaman. Ketika Nabi memperingatkan munculnya dai-dai yang berdiri di pintu neraka Jahanam, beliau memberikan deskripsi fisik dan sosiologis yang mengejutkan:
قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَمُوْنَ بِأَلْسِنَتِنَا
Mereka dari golongan kita dan berbicara dengan lisan-lisan kita.
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari (13/36) memberikan interpretasi tajam terhadap kalimat ini. Ia menyebutkan bahwa para penyesat ini berasal dari bangsa kita sendiri, berbicara dengan bahasa kita, dan secara lahiriah memeluk agama kita. Al-Qoobisy menambahkan dimensi lain: secara dhohir mereka tampak membela agama, namun secara batin mereka menyelisihi prinsip-prinsip dasarnya. Inilah yang dalam kacamata sosiologi politik disebut sebagai "agen lokal" yang menjalankan kepentingan transnasional.
Tokoh-tokoh ini sering kali menampakkan kesungguhan dalam mencari solusi bagi ketertinggalan umat. Mereka menggunakan retorika yang memikat dan gaya bahasa yang intelek. Namun, di balik itu, mereka mengadopsi pola pikir Marjilius atau orientalis Yahudi lainnya. Salah satu contoh yang disorot oleh Syaikh Salim adalah Thoha Husein di Mesir. Sosok yang dijuluki pujangga Arab ini sempat memicu kontroversi hebat ketika narasinya dianggap lebih mengunggulkan sastra jahiliyah ketimbang Al-Quran—sebuah tesis yang berakar kuat pada pemikiran orientalisme Barat.