home global news

Penutupan program studi: Tanggapan Rektor Universitas Paramadina

Ahad, 26 April 2026 - 11:01 WIB
Penutupan program studi: Tanggapan Rektor Universitas Paramadina
Oleh: Prof Dr Didik J.Rachbini

LANGIT7.ID-Ada rencana - menurut saya - sangat bersifat rencana jangka pendek, yakni rencana yang disampaikan Sekretaris Jenderal Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk menutup berbagai program studi yang dinilai kurang relevan dengan kebutuhan industri pertumbuhan ekonomi di masa depan (Kamis, 23 April 2026). Rencana ini mencerminkan visi jangka pendek mengikuti kehendak pasar dan industri. Tidak salah karena industri memang memerlukan tenaga kerja yang trampil dengan keahliak teknis tertentu, tetapi cenderung meredusir makna pendidikan dalam arti sebenarnya.

Pendidikan bukan sekedar menempa manusia memili ketrampilan, tetapi merupakan proses holistik dan mendalam untuk mencapai “menjadi manusia” seutuhnya. Pendidikan adalah upaya “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada diri manusia” agar dia mencapai martabat, keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya, pendidikan bukan sekadar mengisi ilmu di kepala dan ketrampilan fisik tetapi membentuk manusia seutuhnya. Seorang manusia menjadi manusia seutuhnya melalui proses berpikir, merasakan, memilih nilai dan menjadi manusia yang bertanggung jawab. Pendidikan adalah ruang dan proses pembentukan itu.

Di sisi lain, pendikan tinggi khususnya memiliki peran yang tidak tergantikan - berbeda dengan institusi lain - yang bisa sepenuhnya mengikuti logika pasar dan industri. Logika dan nuansa rencana penutupan studi tersebut karena tidak laku di pasar atau kurang peminatnya. Perguruan tinggi harus menjaga ruang bagi ilmu-ilmu yang mungkin belum memiliki “nilai ekonomi langsung”, tetapi memiliki nilai peradaban jangka panjang. Jika pendidikan tinggi direduksi hanya menjadi penyedia keterampilan industri, maka kita sedang mempersempit makna pendidikan itu sendiri. Kita berisiko membentuk generasi yang terampil, tetapi tidak reflektif dan mungkin tuna nilai, adaptif tetapi tidak visioner, produktif, tetapi tidak kreatif dalam arti yang paling mendasar.

Ilmu murni atau ilmu dasar pada saat ini memang sedang tidak atau jauh kaitan urusannya dengan industri. Lebih jauh lagi, negara yang meninggalkan ilmu murni akan kehilangan kedaulatan intelektualnya. Ia akan bergantung pada pengetahuan yang diproduksi di luar, menjadi konsumen teknologi, bukan pencipta - seperrtgi yang kita rasakan sekarang. Dalam jangka panjang, ini bukan hanya persoalan akademik, tetapi persoalan kemandirian bangsa.

Perguruan tinggi negeri yang utama juga sudah terseret arus logika pasar seperti ini. Kampus-kampus ITB, UGM, UB dan lain-lain menyebar jaringannya ke Jakarta dan kota besar untuk menawarkan ilmu praktis, yang tidak ada hubungan dengan peningkatan ilmu yang mendalam. Saya mengusulkan penyebaran kampus-kampus di Jakarta dan kota-kota lain tersebut (ITB, UGM, UB dal lain-lain) dikembangkan hanya untuk bisnis, menambah kas anggaran kampus dan untuk tambahan honor dosennya, yang suka ngamen. Ini tidak ada hubungan dengan peningkatan ilmu dan riset yang mendalam. Justru praktek PTN seperti ini yang harus dihapus karena tidak menjadikan kampus-kampus tersebut unggul naik peringkat di tingkat global. Pantas PTN kita tertinggal di ASEAN dibandingkan Singapura dan Malaysia - apalagi di Asia (Jepang, Cina, Korea dll).

Sekretaris Jenderal Kemendikti Saintek, Badri mengatakan rencana ini akan dieksekusi dalam waktu dekat. Ia lantas meminta perguruan tinggi memiliki kerelaan hati untuk menyeleksi prodi apa saja yang perlu ditutup untuk menekan kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Setiap tahun kampus meluluskan hingga 1,9 juta sarjana, yang mismatch dengan kebutuhan industri di lapangan. Ini tidak karena perguruan tinggi jelas tidak boleh terlepas dari kebutuhan zaman. Namun, kebijakan tersebut tidak boleh menutup ilmu murni. Kementrian tugasnya harus visioner dengan menguatkan ekosistem karena pada akhirnya, pendidikan tinggi bukanlah soal mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. Masa depan itu tidak pernah dibangun hanya dari apa yang terlihat berguna
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya