Jamaah Haji Lansia Diingatkan Tidak Memaksakan Shalat Arbain di Masjid Nabawi
Tim langit 7
Senin, 27 April 2026 - 09:55 WIB
Jamaah Haji Lansia Diingatkan Tidak Memaksakan Shalat Arbain di Masjid Nabawi
LANGIT7.ID-Jakarta; Menjaga kondisi fisik menjelang puncak ibadah haji menjadi prioritas utama bagi jamaah Indonesia, terutama kelompok lanjut usia. Karena itu, jamaah diingatkan agar tidak memaksakan diri menjalankan Shalat Arbain di Masjid Nabawi jika kondisi kesehatan tidak mendukung.
Imbauan ini muncul karena rangkaian ibadah inti haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menuntut stamina yang prima. Aktivitas ibadah tambahan seperti Shalat Arbain dinilai tidak boleh mengganggu kesiapan fisik jamaah menghadapi fase terpenting tersebut.
Petugas Bimbingan dan Ibadah (Bimbad) Daerah Kerja Bandara PPIH Arab Saudi, Anis Diyah Puspita, menegaskan bahwa Shalat Arbain bukan bagian wajib dalam ibadah haji. “Shalat Arbain bukan sesuatu yang harus dituntut kepada Jamaah. Yang terpenting adalah menjaga kondisi agar tetap prima untuk puncak haji,” ujar Anis di Bandara Madinah, dikutip dari situs MUI, Senin (27/4/2026).
Shalat Arbain sendiri merupakan pelaksanaan shalat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi, yang biasanya diselesaikan dalam delapan hari. Meski banyak jamaah berupaya menuntaskannya, kondisi kesehatan tetap harus menjadi pertimbangan utama, khususnya bagi lansia.
Anis mengingatkan agar keinginan menyempurnakan ibadah tersebut tidak berujung pada kelelahan atau sakit saat wukuf di Arafah, yang merupakan rukun haji dan tidak dapat ditinggalkan. Jamaah tetap dipersilakan beribadah di Masjid Nabawi selama mampu, namun tidak perlu memaksakan diri.
“Silakan shalat di Nabawi, tetapi jika kondisi tidak fit, tidak apa-apa melaksanakan shalat di hotel. Tidak perlu memaksakan diri,” katanya.
Data menunjukkan, dari total sekitar 203 ribu jamaah haji reguler Indonesia tahun ini, sebanyak 44.432 merupakan lansia. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi para pendamping, ketua regu, ketua rombongan, serta petugas haji.
Imbauan ini muncul karena rangkaian ibadah inti haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) menuntut stamina yang prima. Aktivitas ibadah tambahan seperti Shalat Arbain dinilai tidak boleh mengganggu kesiapan fisik jamaah menghadapi fase terpenting tersebut.
Petugas Bimbingan dan Ibadah (Bimbad) Daerah Kerja Bandara PPIH Arab Saudi, Anis Diyah Puspita, menegaskan bahwa Shalat Arbain bukan bagian wajib dalam ibadah haji. “Shalat Arbain bukan sesuatu yang harus dituntut kepada Jamaah. Yang terpenting adalah menjaga kondisi agar tetap prima untuk puncak haji,” ujar Anis di Bandara Madinah, dikutip dari situs MUI, Senin (27/4/2026).
Shalat Arbain sendiri merupakan pelaksanaan shalat berjamaah selama 40 waktu berturut-turut di Masjid Nabawi, yang biasanya diselesaikan dalam delapan hari. Meski banyak jamaah berupaya menuntaskannya, kondisi kesehatan tetap harus menjadi pertimbangan utama, khususnya bagi lansia.
Anis mengingatkan agar keinginan menyempurnakan ibadah tersebut tidak berujung pada kelelahan atau sakit saat wukuf di Arafah, yang merupakan rukun haji dan tidak dapat ditinggalkan. Jamaah tetap dipersilakan beribadah di Masjid Nabawi selama mampu, namun tidak perlu memaksakan diri.
“Silakan shalat di Nabawi, tetapi jika kondisi tidak fit, tidak apa-apa melaksanakan shalat di hotel. Tidak perlu memaksakan diri,” katanya.
Data menunjukkan, dari total sekitar 203 ribu jamaah haji reguler Indonesia tahun ini, sebanyak 44.432 merupakan lansia. Kondisi ini menjadi perhatian khusus bagi para pendamping, ketua regu, ketua rombongan, serta petugas haji.