home edukasi & pesantren

Pawukon Jewelry, Perhiasan Berbasis Budaya Lokal Karya Mahasiswa ITS

Kamis, 30 April 2026 - 20:33 WIB
Mahasiswa ITS Bhirawa Kusuma Wijaya saat mengenalkan Pawukon Jewelry Collection pada pameran di Departemen Desain Produk Industri ITS. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan kreativitasnya melalui Pawukon Jewelry Collection, inovasi koleksi perhiasan berupa kalung dan anting yang memadukan teknik material modern dengan nilai astrologi Jawa kuno (Wuku). Melalui karyanya, Bhirawa Kusuma Wijaya menghadirkan koleksi perhiasan premium yang terinspirasi dari sistem penanggalan Jawa sebagai identitas budaya lokal.

Bermula dari tugas kuliah, mahasiswa Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS ini menyampaikan bahwa Pawukon Jewelry Collection lahir dari pendekatan metode material-driven design. Dalam proyek tersebut, setiap mahasiswa diminta melakukan riset eksplorasi dan eksperimen material yang berbeda, hingga ia memilih mengeksplorasi teknik oksidasi untuk memunculkan lapisan patina biru pada tembaga.

Pemuda asal Ponorogo itu mengungkapkan bahwa nama Pawukon sendiri diambil dari sistem penanggalan Jawa dan Bali kuno yang hingga kini masih dikenal oleh Masyarakat setempat. Menurutnya, tema tersebut dipilih karena belum banyak diangkat dalam desain perhiasan modern. “Zodiak Barat sudah sering digunakan dalam perhiasan, sehingga kami mengangkat zodiak Jawa kuno asli Indonesia ke dalam bentuk perhiasan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (30/4/2026).

Lebih lanjut, mahasiswa yang akrab disapa Bhirawa ini memilih Wuku Watugunung sebagai inspirasi utama dari inovasinya di proyek kali ini. Keputusan itu lahir karena wuku tersebut merupakan wuku dirinya sendiri. “Koleksi ini mengusung konsep storytelling yang merepresentasikan karakter dan perjalanan hidup seseorang,” jelasnya.

Desain Watugunung memuat tiga elemen utama, yakni Lakuning Rembulan, bunga Wijaya Kusuma, dan Sang Hyang Antaboga. Lakuning Rembulan menggambarkan pribadi yang mudah berbaur dan membawa kebahagiaan, bunga Wijaya Kusuma melambangkan proses bertumbuh, sedangkan Sang Hyang Antaboga berbentuk naga yang merepresentasikan semangat terhadap inovasi dan seni.

Ketiga elemen tersebut direpresentasikan oleh Bhirawa melalui perhiasan inovasinya. Sang Hyang Antaboga diwujudkan lewat detail kepala naga bermahkota dari emas 18 karat. Dengan sentuhan high polished, elemen ini menonjolkan kilau mewah sebagai simbol semangat inovasi dan seni, sekaligus memberikan kontras visual yang elegan pada perhiasan.

Pada elemen bunga Wijaya Kusuma, Bhirawa menggunakan mutiara air tawar yang melambangkan proses pertumbuhan. Kilau alami mutiara ini berfungsi menyeimbangkan tekstur rustic dari material tembaga, memberikan kesan anggun namun tetap ringan dan nyaman saat digunakan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya