home global news

Pendidikan Tinggi dan Tanggungjawab Peradaban: Refleksi di Tengah Disrupsi dan Ketidakpastian Global

Sabtu, 02 Mei 2026 - 08:00 WIB
Pendidikan Tinggi dan Tanggungjawab Peradaban: Refleksi di Tengah Disrupsi dan Ketidakpastian Global
Oleh ; Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag

LANGIT7.ID-Setiap tanggal 1 Mei, bangsa Indonesia merayakan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sebagai momentum untuk merenungkan kembali arah dan cita-cita pendidikan nasional. Tahun ini, perayaan itu berlangsung di tengah turbulensi global yang belum pernah terjadi sebelumnya: geopolitik yang tidak stabil, krisis ekologi yang mengancam, dan paling mutakhir, gelombang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang telah memasuki hampir seluruh dimensi kehidupan manusia.

Pertanyaan yang mendesak bukan sekadar apa yang harus diajarkan, melainkan peradaban macam apa yang sedang kita bangun?

Indonesia hari ini memiliki sistem pendidikan keempat terbesar di dunia, dengan lebih dari 9 juta mahasiswa yang tersebar di 3.113 perguruan tinggi 83 negeri dan 3.030 swasta (UNESCO Institute for Statistics, 2023). Angka partisipasi pendidikan tinggi (Gross Enrollment Ratio) mencapai 44,88 persen pada 2023, naik signifikan dari 36,31 persen satu dekade lalu (World Bank, 2024).

Ini adalah pencapaian kuantitatif yang patut disyukuri. Namun di balik angka-angka tersebut, terdapat krisis kualitatif yang membutuhkan perhatian serius: krisis moral, krisis integritas, dan krisis makna.

Krisis Moral di Tengah Ekspansi Kuantitas

Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index) yang diterbitkan Transparency International pada 2024 menempatkan Indonesia pada skor 34 dari 100 (sangat bersih/ persepsi korupsi paling rendah), menempati peringkat ke-115 dari 180 negara, sebuah indikator pahit bahwa ekspansi pendidikan belum berbanding lurus dengan penguatan integritas bangsa.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya