Borobudur Didorong Jadi Living Heritage, Menbud Fadli Zon Soroti Peran Desa
Tim langit 7
Senin, 04 Mei 2026 - 21:15 WIB
Borobudur Didorong Jadi Living Heritage, Menbud Fadli Zon Soroti Peran Desa
LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Kebudayaan menggelar Sarasehan Budaya Spiritual Kawasan Borobudur di Nurudin House, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Acara ini dihadiri para kepala desa dan pelaku budaya spiritual dari 20 desa di kawasan Borobudur sebagai tindak lanjut dari proses temu kenali budaya yang telah berlangsung sejak 2022. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia perlu dikelola menjadi warisan budaya yang hidup (living heritage), sehingga keberadaannya terus berlanjut dan memberi manfaat bagi masyarakat. “Kami mendorong situs-situs budaya, khususnya yang telah menjadi warisan dunia seperti Candi Borobudur, agar menjadi living heritage sehingga ada keberlanjutannya,” ungkap Menbud Fadli Zon.
Menteri Fadli juga menjelaskan rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur. Pemasangan ini bertujuan melengkapi fungsi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha. Rencana ini telah dibicarakan bersama Direktur Jenderal UNESCO, Khaleed El-Enany, dan mendapatkan pemahaman serta dukungan. “Pada prinsipnya UNESCO memahami kebutuhan kita, karena pemasangan chattra bertujuan melengkapi Borobudur sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” jelas Menbud.
Sejumlah topik dibahas dalam sarasehan ini, termasuk budaya spiritual di kawasan Borobudur, pusaka dan komunitas Tosan Aji Borobudur, kirab dan pangan spiritual Borobudur, serta relevansi budaya spiritual desa-desa di sekitar Borobudur dengan relief candi. Sarasehan ini juga menjadi wadah untuk menampung aspirasi masyarakat, seperti konservasi desa agar rumah adat, tradisi, dan kesenian tidak luntur. Selain itu juga dibahas mengenai keterlibatan pelaku seni sebagai subjek pemajuan kebudayaan dan sinergi antara pusat dan daerah dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Berkaitan dengan bidang pendidikan turut didiskusikan mengenai integrasi budaya dengan dunia pendidikan dan peran pandu budaya dalam menjaga denyut budaya spiritual di kawasan Borobudur.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia perlu dikelola menjadi warisan budaya yang hidup (living heritage), sehingga keberadaannya terus berlanjut dan memberi manfaat bagi masyarakat. “Kami mendorong situs-situs budaya, khususnya yang telah menjadi warisan dunia seperti Candi Borobudur, agar menjadi living heritage sehingga ada keberlanjutannya,” ungkap Menbud Fadli Zon.
Menteri Fadli juga menjelaskan rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur. Pemasangan ini bertujuan melengkapi fungsi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha. Rencana ini telah dibicarakan bersama Direktur Jenderal UNESCO, Khaleed El-Enany, dan mendapatkan pemahaman serta dukungan. “Pada prinsipnya UNESCO memahami kebutuhan kita, karena pemasangan chattra bertujuan melengkapi Borobudur sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” jelas Menbud.
Sejumlah topik dibahas dalam sarasehan ini, termasuk budaya spiritual di kawasan Borobudur, pusaka dan komunitas Tosan Aji Borobudur, kirab dan pangan spiritual Borobudur, serta relevansi budaya spiritual desa-desa di sekitar Borobudur dengan relief candi. Sarasehan ini juga menjadi wadah untuk menampung aspirasi masyarakat, seperti konservasi desa agar rumah adat, tradisi, dan kesenian tidak luntur. Selain itu juga dibahas mengenai keterlibatan pelaku seni sebagai subjek pemajuan kebudayaan dan sinergi antara pusat dan daerah dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Berkaitan dengan bidang pendidikan turut didiskusikan mengenai integrasi budaya dengan dunia pendidikan dan peran pandu budaya dalam menjaga denyut budaya spiritual di kawasan Borobudur.