LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Kebudayaan menggelar Sarasehan Budaya Spiritual Kawasan Borobudur di Nurudin House, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Acara ini dihadiri para kepala desa dan pelaku budaya spiritual dari 20 desa di kawasan Borobudur sebagai tindak lanjut dari proses temu kenali budaya yang telah berlangsung sejak 2022. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan budaya sesuai amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Dalam sambutannya, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan bahwa Candi Borobudur sebagai situs warisan dunia perlu dikelola menjadi warisan budaya yang hidup (living heritage), sehingga keberadaannya terus berlanjut dan memberi manfaat bagi masyarakat. “Kami mendorong situs-situs budaya, khususnya yang telah menjadi warisan dunia seperti Candi Borobudur, agar menjadi living heritage sehingga ada keberlanjutannya,” ungkap Menbud Fadli Zon.
Menteri Fadli juga menjelaskan rencana pemasangan chattra di Candi Borobudur. Pemasangan ini bertujuan melengkapi fungsi Borobudur sebagai tempat ibadah umat Buddha. Rencana ini telah dibicarakan bersama Direktur Jenderal UNESCO, Khaleed El-Enany, dan mendapatkan pemahaman serta dukungan. “Pada prinsipnya UNESCO memahami kebutuhan kita, karena pemasangan chattra bertujuan melengkapi Borobudur sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar,” jelas Menbud.
Sejumlah topik dibahas dalam sarasehan ini, termasuk budaya spiritual di kawasan Borobudur, pusaka dan komunitas Tosan Aji Borobudur, kirab dan pangan spiritual Borobudur, serta relevansi budaya spiritual desa-desa di sekitar Borobudur dengan relief candi. Sarasehan ini juga menjadi wadah untuk menampung aspirasi masyarakat, seperti konservasi desa agar rumah adat, tradisi, dan kesenian tidak luntur. Selain itu juga dibahas mengenai keterlibatan pelaku seni sebagai subjek pemajuan kebudayaan dan sinergi antara pusat dan daerah dalam membangun ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan. Berkaitan dengan bidang pendidikan turut didiskusikan mengenai integrasi budaya dengan dunia pendidikan dan peran pandu budaya dalam menjaga denyut budaya spiritual di kawasan Borobudur.
“Melalui ruang komunikasi kultural yang dibangun bersama, Kementerian Kebudayaan berharap semangat dari masyarakat dan komunitas budaya di 20 desa di kawasan Borobudur dapat terus tumbuh dan bergerak di tingkat akar rumput,” tegas Menbud Fadli Zon.
Sejalan dengan semangat tersebut, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, juga mendorong masyarakat untuk memanfaatkan program Dana IndonesiaRaya demi memperkuat aktivitas budaya di kawasan Candi Borobudur.
Hadir dalam kesempatan ini Direktur Taman Wisata Candi, Febrina Intan; Direktur Operasional P.T. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko, Indung Perwira Jati; Direktur P.T. Taman Wisata Borobudur, Mardjino Nugroho; Camat Borobudur, Subiyanto; para Kepala Desa di Kecamatan Borobudur, serta perwakilan masyarakat dari Desa Wringinputih; perwakilan Lembaga Adat Desa Borobudur, tokoh adat dan budaya, serta pelaku budaya dari sekitar lingkungan Borobudur. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan di antaranya, Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Khusus Menteri bidang Sejarah dan Perlindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; Direktur Kepercayaan dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; dan Direktur Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin.
Mengakhiri diskusi, Menteri Kebudayaan mengajak generasi muda untuk memanfaatkan media sosial dalam mempromosikan budaya lokal. “Di era digital, keterlibatan generasi muda sangat penting. Kebudayaan bisa menjadi pendorong sektor ekonomi yang berbasis nilai budaya. Kementerian siap mendukung agar promosi budaya lokal berjalan optimal,” pungkas Menbud Fadli Zon.
(lam)