LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, hadiri Musyawah Nasional (Munas) pertama dan seminar Perkumpulan Peduli Wisata Budaya Indonesia (PEWIBI). Seminar bertema "Budaya Warisan Hidup: Menuju Peradaban Nusantara Berkelanjutan Masa Depan,” ini membahas penguatan kolaborasi untuk pengembangan wisata budaya nasional. Berlangsung di Auditorium Perpusnas RI, pertemuan ini dihadiri oleh pengurus dan anggota PEWIBI dari berbagai penjuru Indonesia.
Menbud Fadli sebagai pembicara kunci menyambut baik kehadiran PEWIBI sebagai mitra kolaborasi strategis, yang sejalan dengan posisi Kementerian Kebudayaan yang kini berdiri sebagai kementerian tersendiri. Menteri Fadli Zon menegaskan pentingnya amanat Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.
Lebih lanjut, Menteri Fadli menyampaikan bahwa potensi wisata budaya Indonesia sangat besar, mulai dari keberadaan lukisan purba tertua di dunia yang berusia sekitar 67.800 tahun di Pulau Muna, hingga berbagai cagar budaya dan
living heritage yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Kekayaan budaya yang luar biasa dengan tingkat keberagaman yang tinggi ini tercermin dari 2.723 warisan budaya takbenda yang telah tercatat secara nasional serta 16 di antaranya telah diakui oleh UNESCO.
"Wisata budaya memiliki potensi ekonomi yang sangat besar. Contohnya, pengelolaan Istana Versailles di Prancis yang mampu menghasilkan sekitar 30 miliar rupiah per hari dari penjualan tiket, belum termasuk pendapatan dari
merchandise. Hal ini menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi bagian dari penguatan ekonomi melalui pengembangan
cultural economy dan industri kreatif," jelas Menbud dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2025).
Dalam pengembangan ekonomi budaya, Menteri Fadli Zon menekankan bahwa pembangunan kebudayaan memerlukan kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, komunitas, dan media. Menbud turut menyampaikan pemerintah membuka peluang kemitraan publik-swasta (
public-private partnership) untuk revitalisasi situs budaya. "Ada juga situs-situs budaya kita juga yang didukung dan dibantu oleh pihak swasta, oleh korporasi, bahkan oleh individu-individu filantropis yang cinta kepada budaya," jelas Menbud lebih jauh.
Menteri Fadli juga mendorong transformasi situs budaya agar tidak hanya menjadi monumen statis, tetapi berkembang sebagai warisan hidup (
living heritage) yang relevan dan berdaya guna bagi masyarakat. Menurutnya dengan bekerja sama terutama dengan para pengusaha di bidang wisata budaya akan membuahkan hasil baik dan menjadi simbiosis mutualisme,
"Pembangunan kebudayaan tak mungkin dijalankan oleh pemerintah sendiri. Ekosistem kebudayaan yang sehat butuh kolaborasi di lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat sipil, BUMN, dunia usaha, swasta, korporasi, media, akademisi, dan komunitas," tegas Menbud.
Ketua Umum sekaligus pendiri PEWIBI, Irlisa Rachmadiana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa organisasi yang diresmikan pada 30 Desember 2025 tersebut merupakan perkumpulan yang memiliki visi untuk membantu pemerintah dalam memajukan wisata berbasis budaya Indonesia melalui kemampuan dan swadaya anggotanya. "Jaringan organisasi ini telah tersebar dari Aceh hingga Papua, serta memiliki perwakilan di tiga benua, yaitu Amerika, Eropa, dan Asia. PEWIBI terus berkomitmen sebagai organisasi non-politis yang menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika," jelasnya.
Turut hadir dalam pertemuan tersebut, di antaraya Staf Khusus Menteri Bidang Hukum dan Kekayaan Intelektual, B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi; Direktur Sejarah dan Permuseuman, Agus Mulyana; Pendiri II dan Dewan Pengawas PEWIBI, Wahyuni Sutantri; Sekretaris Jenderal PEWIBI, Ira Damayanti, serta segenap jajaran PEWIBI.
Menutup rangkaian acara, PEWIBI menganugerahkan penghargaan Tokoh Kebudayaan 2026 kepada Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, sebagai bentuk apresiasi atas sepak terjangnya yang berfokus kepada bidang kebudayaan.
(lam)