home global news

Raih Top 6 di AS, Terangin ITS menjadi Solusi Cerdas untuk Petani

Selasa, 05 Mei 2026 - 17:40 WIB
Turbin angin modular Terangin, rancangan tim mahasiswa ITS, yang telah berhasil terpasang di lahan pertanian. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Keresahan petani terhadap ancaman hama yang kerap memicu gagal panen melahirkan sebuah inovasi energi terbarukan dari mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Inovasi tersebut lahir dari potensi alam yang belum dimanfaatkan secara optimal, yakni energi angin dan surya, yang kini diwujudkan dalam bentuk turbin angin ramah lingkungan bernama Terang dan Angin (Terangin).

Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Founder Terangin, Muhammad Hanif, menjelaskan bahwa inovasi ini awalnya lahir dari riset untuk kebutuhan kompetisi. Terinspirasi dari potensi angin di Kabupaten Nganjuk, yang dikenal sebagai kota angin sekaligus sentra bawang merah di Jawa Timur. "Awalnya riset untuk lomba, tetapi ketika ada yang membutuhkan dan ingin membeli, kami sadar perlu mendirikan sebuah PT (Perusahaan, red) sebagai legalitas," ungkapnya dalam keterangan resmi, Selasa (5/5/2026).

Dalam pengembangannya, Terangin menghadirkan pendekatan berbeda melalui sistem microgrid yang memanfaatkan energi angin dan surya untuk mengoperasikan lampu jebakan hama secara otomatis. Sistem ini dirancang sesederhana mungkin agar mudah dioperasikan petani, tanpa ketergantungan pada teknologi kompleks yang justru berpotensi menyulitkan di lapangan.

Terobosan lain ditunjukkan melalui penggunaan pondasi modular non-permanen yang mampu menekan biaya hingga delapan kali lebih rendah dibandingkan pondasi beton. Desain tersebut memungkinkan turbin dapat dibongkar pasang, sehingga fleksibel digunakan pada lahan sewa maupun saat petani ingin berpindah lokasi.

Tidak hanya itu, tim Terangin juga merancang sistem rem otomatis yang diberi nama rem angin (remin) yang bekerja tanpa listrik maupun sensor. Mekanisme ini memanfaatkan gaya dorong angin untuk memperlambat putaran turbin secara mandiri, sehingga lebih hemat energi sekaligus minim kebutuhan perawatan. "Rem yang kami rancang tidak memerlukan listrik, lebih murah, dan sepenuhnya otomatis dibandingkan sistem lain yang membutuhkan pemantauan rutin," bebernya.

Untuk menjawab tantangan perawatan di area pertanian yang luas, menurut mahasiswa yang biasa disapa Hanif ini, Terangin memanfaatkan teknologi drone sebagai sarana maintenance modern. Melalui pemantauan jarak jauh, tim dapat mengidentifikasi potensi kerusakan lebih dini sehingga perawatan menjadi lebih cepat, efisien, dan aman tanpa perlu membongkar struktur turbin.

Mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS angkatan 2024 tersebut menambahkan bahwa sistem yang dikembangkan mampu menghasilkan energi sebesar 2,1 kWh per hari. Energi tersebut tidak hanya dimanfaatkan untuk lampu jebakan hama, tetapi juga dapat digunakan untuk kebutuhan lain seperti irigasi dan sprinkler atau alat penyiram tanaman. "Penggunaan sistem ini memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida secara signifikan sekaligus meningkatkan hasil panen," jelasnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya