Burnout Akademik: Wabah Sunyi Dunia Kampus Lelah Boleh Menyerah Jangan
Tim langit 7
Kamis, 07 Mei 2026 - 13:43 WIB
Burnout Akademik: Wabah Sunyi Dunia Kampus Lelah Boleh Menyerah Jangan
Oleh: Soleh Amini Yahman, Psikolog
LANGIT7.ID-Rasa malas sering dipahami secara sederhana sebagai kelemahan kemauan atau rendahnya etos kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, label “malas” begitu mudah diberikan kepada mereka yang menunda pekerjaan, kehilangan semangat belajar, atau tampak tidak produktif dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Mahasiswa yang berhari-hari tidak menyentuh skripsi atau disertasi dianggap kurang disiplin. Dosen yang kehilangan gairah menulis dipandang tidak lagi produktif. Padahal, di balik perilaku yang tampak malas itu sering tersembunyi pergulatan psikologis yang jauh lebih kompleks. Kemalasan dalam banyak kasus bukan sekadar ketidakmauan untuk bergerak, melainkan bahasa sunyi dari kelelahan mental, kehilangan makna, dan krisis eksistensial manusia modern.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial sekaligus makhluk intelektual. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan keterhubungan, kontribusi, dan pengakuan dalam kehidupan bersama. Sebagai makhluk akademis, manusia membutuhkan makna dalam proses berpikir, belajar, dan berkarya.
Namun kehidupan modern justru sering menjauhkan manusia dari kedua hal tersebut. Dunia yang bergerak sangat cepat membuat produktivitas menjadi ukuran utama keberhasilan. Manusia didorong terus-menerus untuk bekerja, menghasilkan, menulis, menerbitkan, dan mencapai target tanpa henti. Dalam situasi demikian, banyak orang hidup dalam tekanan berkepanjangan tanpa benar-benar memiliki ruang untuk memulihkan dirinya sendiri.
Akibatnya, rasa malas muncul bukan sebagai penyebab utama kemunduran produktivitas, tetapi sebagai gejala dari kelelahan psikologis yang mendalam. Tubuh tampak diam, tetapi pikiran sebenarnya sedang penuh tekanan. Seseorang terlihat menunda pekerjaan, padahal batinnya sedang mengalami kejenuhan emosional. Ia tampak kehilangan disiplin, padahal dirinya sedang kehilangan energi hidup.
Di era digital, kondisi ini semakin diperparah oleh budaya instan yang membentuk manusia menjadi terbiasa memperoleh kenyamanan cepat tanpa proses panjang. Media sosial, hiburan digital, dan arus informasi yang tidak berhenti membuat konsentrasi manusia semakin rapuh. Aktivitas yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran akhirnya terasa berat dan melelahkan.
LANGIT7.ID-Rasa malas sering dipahami secara sederhana sebagai kelemahan kemauan atau rendahnya etos kerja. Dalam kehidupan sehari-hari, label “malas” begitu mudah diberikan kepada mereka yang menunda pekerjaan, kehilangan semangat belajar, atau tampak tidak produktif dalam menjalankan tanggung jawabnya.
Mahasiswa yang berhari-hari tidak menyentuh skripsi atau disertasi dianggap kurang disiplin. Dosen yang kehilangan gairah menulis dipandang tidak lagi produktif. Padahal, di balik perilaku yang tampak malas itu sering tersembunyi pergulatan psikologis yang jauh lebih kompleks. Kemalasan dalam banyak kasus bukan sekadar ketidakmauan untuk bergerak, melainkan bahasa sunyi dari kelelahan mental, kehilangan makna, dan krisis eksistensial manusia modern.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial sekaligus makhluk intelektual. Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan keterhubungan, kontribusi, dan pengakuan dalam kehidupan bersama. Sebagai makhluk akademis, manusia membutuhkan makna dalam proses berpikir, belajar, dan berkarya.
Namun kehidupan modern justru sering menjauhkan manusia dari kedua hal tersebut. Dunia yang bergerak sangat cepat membuat produktivitas menjadi ukuran utama keberhasilan. Manusia didorong terus-menerus untuk bekerja, menghasilkan, menulis, menerbitkan, dan mencapai target tanpa henti. Dalam situasi demikian, banyak orang hidup dalam tekanan berkepanjangan tanpa benar-benar memiliki ruang untuk memulihkan dirinya sendiri.
Akibatnya, rasa malas muncul bukan sebagai penyebab utama kemunduran produktivitas, tetapi sebagai gejala dari kelelahan psikologis yang mendalam. Tubuh tampak diam, tetapi pikiran sebenarnya sedang penuh tekanan. Seseorang terlihat menunda pekerjaan, padahal batinnya sedang mengalami kejenuhan emosional. Ia tampak kehilangan disiplin, padahal dirinya sedang kehilangan energi hidup.
Di era digital, kondisi ini semakin diperparah oleh budaya instan yang membentuk manusia menjadi terbiasa memperoleh kenyamanan cepat tanpa proses panjang. Media sosial, hiburan digital, dan arus informasi yang tidak berhenti membuat konsentrasi manusia semakin rapuh. Aktivitas yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran akhirnya terasa berat dan melelahkan.